Monthly Archives: Agustus 2017

  • 0

Tahukah kalian bahwa Hijrah itu di bagi menjadi beberapa bagian. ?

Assalammualaiku wr wb

Bismillahirrohmannirrohim

Para saudaraku yag senantiasa di cinta Allah SWT. Kali ini kita akan melanjutkan pembahasan yang kemarin yaitu Hijrah . kalian pasti sudah tahu mengenai hijrah yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat.

Pristiwa hijrah dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan ahun Hijriyah.

Tahun Hiriyah, ditetapkan pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khatab ra, sebagai jawaban atau surat Wali Abu Musa Al-As’ari. Khalifah Umar menetapkan Tahun Hijriyah Kalender Tahun Gajah, Kalender Persia untuk menggantikan penanggalan yang digunakan bangsa Arab sebelumnya, seperti yang berasal dari tahun Gajah, Kalender Persia, Kalender Romawi dan kalender-kalendar lain yang berasal dari tahun peristiwa-peristiwa besar Jahiliyah. Khlifah Umar memilih peristiwa Hijrah sebagai  taqwim Islam, karena Hijrah Rasulullah aw dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah merupakan peristiwa paling monumental dalam perkembangan dakwah.

Dan Tahukan kalian bahwa Hijrah itu di bagi menjadi beberapa bagian . bagian apa saja .?

  1. Hijrah Makaniyah : Yaitu meinggalkan suatu tempat.

Bebebrapa jenis hijrah maknawiyah, yaitu:

  • Hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Habasyiyah.
  • Hijrah Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah.
  • 
Hijrah dari suatu negeri yang didalamnya didominasi oleh hal-hal
    yang diharamkan.
  • 
Hijrah dari suatu negeri yang membahayakan kesehatan untuk menhindari penyakit menuju negeri
    yang aman
  • Hijrah dari suatu tempat karena gangguan terhadap harta benda.

2. Hijrah Maknawiyah

 Secara  maknaiyah hijrah dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:

  • Hijrah I’tiqadiyah
Yaitu hijrah keyakinan. Iman bersifat pluktuatif, kadang menguat menuju puncak keyakinan mu’min sejati, kadang pula melemah mendekati kekufuran Iman pula kadang hadir dengan kemurniannya, tetapi kadang pula  bersifat sinkretis, bercampur dengan keyakinan lain mendekati memusyrikan. Kita harus segera melakuakn hijrah keyakinan bila berada di tepi jurang kekufuran dan kemusyrikan keyakinan. Dalam konteks psikologi biasa disebut dengan konversi keyakinan agama.

Hijrah Fikriyah
Fikriyah secara bahasa berasal dari kata fiqrun yang artinya pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa secara oline kitya akses.
  1. Hijrah Syu’uriyyah
 Syu’uriyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan semisalnya, semau yang ada pada diri kita sering terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kuarng Islami Banyak hal seperti hiburan, musik, bacaan, gambar/hiasan, pakaian, rumah, idola semua pihak luput dari pengaruh nilai-nilai diluar Islam.

Kalau kita perhatikan, hiniran dan musik seorang muslim takjauh beda dengan hiburannya para penganut paham permisifisme dan hedonisme, berbau hutra-hura dan senang-senang belaka.

Mode pakain juga tak kalah pentingnya untuk kita hiraukan Hijrah dari pakaian gaya jahiliyah menuju pakaian Islami, yaitu pakaian yang benar-benar mengedepankan fungsi bukan gaya. Apa fungsi pakaian ? Tak lain hanyalah untuk menutup aurat, bukan justru memamerkan aurat. Ironis memang banyak diantara manusia berpakaian tapi aurat masih terbuka. Ada yang sudah tertutup tapi ketat dan transparan, sehingga lekuk tubuhnya bahkan warna kulitnya terlihat. Konon, umat Islam dimanjakan oleh budaya barat dengan 3 f, food, fan, fashan.

4. Hijrah Sulukiyyah  
Suluk berarti tingkah laku atau kepribadian atau biasa disebut juag akhlaq. Dalam perjalanannya ahklaq dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Pergeseran dari kepribadian mulai (akhlaqul karimah) menuju kepribadian tercela akhlaqul sayyi’ah).

Sehingga tidak aneh jika bermuculan berbagai tindak moral dan asusila di masyarakat. Pencurian, perampokan, pembunuhan, pelecehan, pemerkosaan, penghinan dan penganiyaan seolah-olah telah menjadi biasa dalam masyarakat kita. Penipuan, korupsi,, prostitusi dan manipulasi hampir bisa ditemui di mana-mana. Dalam moment hijrah ini, sangat tepat jika kita mengkoreksi akhlaq dan kepribadian kita untuk kemudian menghijrahkan akhlaq yang mulia.

Refleksi

Dengan telah berakhirnya tahun 1431 H dan tibanya tahun 1433 H, serta sebentar lagi akan segera pergantian tahun masehi dari 2011, suatu hal yang pasti bahwa usia kita bertambah dan jatah usia kita semakin berkurang. Sudah selayaknya kita menghisab drii sebelum dihisab oleh Allah. Rasulullah Saw bersabda:
“Hisablah (lakukan perhitungan atas) dirimu sebelum dihisab oleh Allah, dan lakukanlah kalkulasi amal baik dan amal burk sebelum Allah memberikan kalkulasi amal atas dirimu.

Demikian dari uraian di atas mengenai Hijrah yang di bagi menjadi beberapa bagian .dan kita sebagai khalifah di bumi ini harus senantiasa maknainya dengan benar . Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembacanya dan semoga Allah senantiasa memberikan ilmu yang berkah untuk hidup kita semua .


  • 0

Saudaraku tahukan engkau, Apa Itu Hijrah. ?

Assalammualaiku wr wb

Bismillahirrohmannirrohim

Para saudaraku yag senantiasa di cinta Allah SWT. Kali ini saya akan berbagi tentang apa itu hijrah, seperti apa itu hijrah..? Mari kita akan membahas mengenai hijrah .

 

Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan dari dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah hijrah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bersama para sahabat beliau dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah, berupa akidah dan syari’at Islam.

Dengan merujuk kepada hijrah yang dilakukan Rasulullah Saw tersebut sebagaian ulama ada yang mengartikan bahwa hijrah adalah keluar dari “darul kufur” menuju “darul Islam”. Keluar dari kekufuran menuju keimanan.
Umat Islam wajib melakukan hijrah apabila diri an keluarganya terancam dalam mempertahankan akidah dan syari’ah Islam.

Perintah berhijrah terdapat dalam beberpa ayat Al-Qur’an, antara lain: Qs. Al-Baqarah 2:218).
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Pada ayat-ayat di atas, terdapat esensi kandungan:

  1. Bahwa hijrah harus dilakuakn atas dasar niat karena Allah dan tujuan mengarah rahamt dan
   keridhaan Allah.

2. Bahwa  orang-oerang  beriman yang berhijrah dan berjihad dengan motivasi karena Allah dan tujuan
   untuk meraih rahmat dan keridhaan Allah, mereka itulah adalah mu’min sejati yang akan memperoleh  
   pengampunan Allah, memperoleh  keebrkahan rizki (ni’mat) yang mulai, dan kemenangan di sisi Allah.

  1. Bahwa hijrah dan jihad dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita  miliki, termasuk  harta
   benda, bahkan jiwa.
  2. Ketiga   ayat  tersebut  menyebut  tiga  prinsip  hidup, yaitu  iman,  hijrah dan jihad. Iman bermakna
   keyakinan, hijtah bermakna perubahan dan jihad bermakna perjuangan dalam menegakkan risalah Allah.

Dan tahukan saudaraku Makna dari sebuah Hijrah .?

Mana dari sebuah Hijrah adalah Hijrah sebagai salah satu prinsip hidup, harus senantiasa kita maknai dengan benar. Secara bahasa hijrah berarti meninggalkan. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi 2 syarat, yaitu yang pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju (tujuan).

Kedua-duanya ahrus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah. Meninggalkan segala hal yang buruk, negative, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menju keadaan yang lebih yang lebih baik, positif dan kondisi yang kondusif untuk menegakkan ajaran Islam.

Dalam realitas sejarah hijrah senantiasa dikaitkan dengan meninggalkan suatu tempat, yaitu adanya peristiwa hijrah Nabi dan para sahabat meninggalkan tepat yang tidak kondisuf untuk berdakwah. Bahkan peristiwa hijrah itulah yang dijadikan dasar umat Islam sebagai permulaan ahun Hijriyah.

Demikian dari uraian di atas Hijrah salah satu prinsip hidup, dan kita sebagai khalifah di bumi ini harus senantiasa maknainya dengan benar . Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembacanya dan semoga Allah senantiasa memberikan ilmu yang berkah untuk hidup kita semua


  • 0

Apa itu Dakwah .?

Assalammualaikum wr wb

Bismillahhirrohmannirrohim

Para saudaraku yang senantiasa di cintai Allah , kali ini saya akan membahas mengenai dakwah . Apa itu dakwah, ?

“Serulah oleh kalian (umat manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka secara baik-baik…” (QS. An-Nahl:125).

Penggunaan kata Dakwah sendiri di dalam Al-Qur’an memiliki fungsi dan peranan yang berbeda. Kata Dakwah di dalam Al-Qur’an digunakan sebanyak 198 kali dan Dakwah sendiri tidak merujuk pada satu arti akan tetapi merujuk pada beberapa arti kata. Kata Dakwah dalam Al-Qur’an digunakan dalam bentuk :

  1. Dakwah sebagai Ajakan
  2. Dakwah sebagai Doa
  3. Dakwah sebagai Tuduhan

Selain dari ketiga kata di atas, di dalam Al-Qur’an juga dijelaskan mengenai kata dakwah sebagai bentuk:

  1. Aduan atau memanggil seseorang untuk menyampaikan keluh dan kesahnya.
  2. Permintaan atau memiliki makna yang hampir sama dengan do’a namun pendekatan kata yang lebih umum.
  3. Mengundang atau seruan yang bersifat ajakan yang mengajak seseorang menghadiri acara.
  4. Merujuk pada kejadian dimana Malaikat Israfil yang mengundang manusia untuk berkumpul di Padang Masyhar
  5. Gelar dan Sebutan yang digunakan untuk memanggil seseorang
  6. Merujuk pada anak yang angkat yang tidak bukan berarti anak kandung sendiri.

SECARA etimologis, menurut para ahli bahasa, dakwah berakar kata da’a-yad’u-da’watan, artinya ”mengajak” atau ”menyeru”.

Sedangkan pengertian Dakwah Secara Terminologis. Dalam artian terminologies lebih cenderung diartikan sebagai usaha yang dilakukan oleh seorang pendakwah agar kembali ke jalan yang benar. Dalam pembahasan ini pendakwa merujuk pada seseorang muballigh atau penceramah yang menyampaikan Dakwah*. Penggunaan kata dakwah hanya merujuk pada ajakan yang disampaikan oleh penceramah dalam agama Islam karena asala bahasa Arab yang sangat erat dikaitkan sebagai asal dan tempat agama Islam berkembang.

Tahukan kalian mengenai Jenis – jenis Dakwah, Dakwah di bagi menjadi 7 bagian apa sajakah itu, ?

  1. Fiqhud-dakwah

Fihud Dakwah artinya adalah suatu proses memahami aspek serta tatacara yang berhubungan dengan dakwah, Tujuan ini adalah menyampaikan suatu kabar atau seruan dengan cara-cara yang benar sehingga terhindar dari perbuatan Fasiq. Anjuran dalam menyampaikan dakwah yang sesuai dengan kebenaran Islam dalam menyampaikan Risalah al islamiyah.

  1. Dakwah fardiah

Dakwah fardiah adalah suatu metode dakwah yang ditujukan kepada kelompok kecil orang dan disampaikan secara terbatas. Dakwah Fardiah disampaikan tanpa terencana sehingga proses penyampaian tidak terstruktur dengan baik dari segi tata tertib. Metode dakwah seperti dapat berupa menasehati orang lain ketika melakukan kesalahan secara langsung dalam bentuk teguran, anjuran atau contoh dalam melakukan sesuatu.

  1. Dakwah ammah

Dakwah Ammah adalah berdakwah dengan cara menyampaikan sesuatu secara lisan keapad orang banyak. tujuan dari Dakwah Amma adalah menanamkan sebuah faham agar orang yang mendengar terpengaruh dengan ucapan yang disampaikan.

  1. Dakwah bil-Haal

Dakwah bil al-hal merupakan metode dakwah dengan memberikan contoh melalui perbuatan secar a langsung. Dakwah bil Hal ini bertujuan agar orang-orang mengikuti jejak dari si pendakwah atau Da’i.

  1. Dakwah bit-tadwin

Dakwah bit-tadwin adalah sebuah metode dakwah yang dilakukan melalui tulisan. Metode dakwah ini disampaikan dengan cara menuliskan penjelasan mengenai seruan yang hendak disampaikan

  1. Dakwah bil hikmah

Dakwah bil hikmah adalah menyampaikan seruan secara arif dan juga bijaksana. Memberikan kesempatan bagi para pendengar untuk mengambil keputusan sendiri dan tidak dengan melalui paksaan sehingga pelaku benar-benar melakukan karena Allah. Menyampaikan dakwah secara persuasif dan membuat tersadar dengan sendirinya.

Demikianlah Uraian di atas mengenai Apa itu dakwah dan di bagi menjadi beberapa bagiankah dakwah tersebut .Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi setiap para pembacanya .

Wasslammualaikum


  • 0

Indahnya Menyantuni Anak Yatim

Bismillahhirrohmannirrohim

Para saudaraku yang senantiasa di cintai Allah SWT , kali ini saya akan berbagi tentang pembahsan mengenai Indahnya menyantuni anak yatim .

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيماً فَآوَى* وَوَجَدَكَ ضَالّاً فَهَدَى* وَوَجَدَكَ عَائِلاً فَأَغْنَى

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan.” (Adh-Dhuha: 6-8)

Sebelumnya saya akan membahas penjelasan mengenai menyantuni . Apa itu manyantuni .?
Mneyantuni adalah Menyantuni berasal dari kata dasar santun. Menyantuni adalah sebuah homonim karena arti-artinya memiliki ejaan dan pelafalan yang sama tetapi maknanya berbeda. Menyantuni adalah memberi hak orang lain atau mendahulukan hak-hak orang lain dari pada diri sendiri .

Dan arti kata dari yatimadalah Secara bahasa, yatim (اليتيم) berarti sendiri atau kehilangan. Dalam istilah syar’i, yatim (اليتيم) adalah anak yang ditinggalkan mati ayahnya sebelum ia mencapai umur balig. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan tentang batas usia yatim dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Daud: “لَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ” yang artinya “tidak disebut yatim, anak yang telah bermimpi (baligh).” Sedangkan anak yang ditinggal mati oleh ibunya ketika ia masih kecil bukanlah termasuk dalam pengertian anak yatim. Sebab arti kata yatim (اليتيم) itu sendiri ialah kehilangan induk yang menanggung nafkah.

Imam As-Sa’di menjelaskan; “yatim adalah orang yang telah tiada ayahnya dan penanggung hidupnya, ia sangat membutuhkan pengayoman dan perbuatan baik dari orang lain”. (Taisirul Karimir Rahman: 1111)

Tahukan sahabat Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan urusan anak yatim sebanyak 22 kali. islam memotivasi setiap mukmin untuk memberikan kontribusi maksimal kepada umat dan orang lain. Riwayat yang mauquf dan lemah menyatakan; “Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukanlah dari golongan mereka” (Abu Nu’aim dll), sangat masyhur menjadi stigma dan aib bagi orang yang cuek dan acuh tak acuh terhadap permasalahan dan musibah yang menimpa umat. Sebaliknya Islam sangat memuji orang yang dermawan, peduli, responsip terhadap problematika umat dan orang lain. Oleh karena itu Rasulullah Saw. bersabda; “sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain”. (al-hadits, lemah riwayat Thabrani)

Menyantuni anak yatim di dunia akan menempati kedudukanyang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
 .serta ada 3 hal penting yang harus diperhatikan yaitu ihsan (berbuat baik) kepada anak yatim, hak-hak anak yatim, dan harta anak yatim.

1. Ihsan (berbuat baik) kepada anak-anak yatim.
Meskipun anak yatim kehilangan kasih sayang ayah yang membesarkannya, tetapi tidak kehilangan rahmat Allah. Syari’at-Nya yang mulia memberikan perhatian besar terhadap kasih sayang dan sikap baik kepada anak yatim.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلاَحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ
Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, Maka mereka adalah saudaramu” (Al-Baqarah: 220)

2. Hak-hakanak yatim.
Anak yatim harus mendapatkan hak-haknya sebagaimana anak-anak lain yang mendapatkan hak-hak dari ayah mereka. Syari’at Islam mengharuskan agar anak yatim mendapatkan kasih sayang, kelembutan, dan pendidikan baik yang dapat membentuknya menjadi manusia shaleh dalam kehidupannya. Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman tentang kehidupan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menjalani kehidupan sebagai anak yatim pada masa kanak-kanaknya
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيماً فَآوَى* وَوَجَدَكَ ضَالّاً فَهَدَى* وَوَجَدَكَ عَائِلاً فَأَغْنَى
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu dia memberikan kecukupan.” (Adh-Dhuha: 6-8)
Bahkan dalam surat Al-Ma’un Allah menggolongkan orang-orang yang berlaku sewenang-wenang kepada anak yatim termasuk pendusta agama.
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.” (Ad-Dhuha: 9)
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ* فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ* وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Ma’un: 1-3)

3. Harta anak yatim.
Hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan hak harta anak yatim adalah keadaan anak yatim itu ditinjau dari sisi ekonominya. Seringkali pandangan terhadap anak yatim hanya mengarah kepada kemiskinan dan kekurangan harta, sehingga anak yatim selalu dipandang sebagai anak yang sangat membutuhkan bantuan ekonomi. Padahal tidak semua anak yatim ditinggal mati ayahnya dalam keadaan miskin. Adakalanya seorang ayah meninggal dunia dengan meninggalkan harta waris dalam jumlah yang besar, sehingga anak yang ditinggalkan memiliki hak untuk mendapatkan harta tinggalan ayahnya. Oleh sebab itu firman Allah dalam Al-Qur’an tidak hanya berupa perintah untuk mengluarkan harta untuk kepentingan anak yatim, tetapi juga berisi perintah untuk mengamankan dan memelihara harta anak yatim.
Di antara perintah Allah untuk berinfaq untuk anak adalah firmanNya:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya…” (Al-Baqarah: 177)

Demikian uraian mengenai penjelasan menyantuni anak yatim dan penjelasan mengenai 3 hal penting yang harus diperhatikan yaitu ihsan (berbuat baik) kepada anak yatim, hak-hak anak yatim, dan harta anak yatim. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan yang berlimpah dan menempati kedudukan yang tinggi di surga dekat dengan kedudukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk parasaudaraku yang senantiasa senang berbagi dan menyantuni anak yatim .


  • 0

Program YMA Menciptakan Senyum di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Tuhan yang maha esa, , Bulan berkah yang ditunggu oleh semua umat Islam, Semua umat Islam di seluruh dunia merayakannya dengan kebahagiaan karena Ramadhan memiliki keistimewaan dibandingkan bulan lainnya.

Di bulan yang penuh keberkahan ini, cinta serta kasih dengan berbagi terhadap sesama, merupakan hal yang tentu sangat menyejukkan jiwa, karena disitulah hakekatnya kebahagiaan jiwa dengan saling berbagi terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Kebahagian yang diharapkan bukan hanya sekedar bersifat induvidualistik namun secara sosial kebahagiaan tersebut bisa dicapai dengan saling berbagi.

Momentum di bulan yang penuh rahmat, cinta serta kasih sayang ini, kami selaku dari Pengurus Yayasan Mandiri Amanah memberikan Santunan Lebaran untuk Para Anak Yatim dan Dhuafa yang kami Bina di Kp. Tegal tengah Kec. Sukamakmur .

” Saudaraku Perlu engkau tahu bahwasannya kesuksesan, begitu pula harta yang Allah anugerahkan itu semua hanyalah titipan dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al Hadiid: 7)

Donasi anda telah membuat senyuman indah untuk para saudara kita yang membutuhkan. Maka sisakanlah sedikit ruang dalam kepedulian kita untuk para saudara kita yang benar-benar membutuhkan kita .

Jika saudara ingin berbagi bisa Mentransfer melalui :

Bank Mandiri
Rek. 133 00 1283 0303 a/n Yayasan Mandiri Amanah Bersama
Hotline (021) 8945 2133

“Barang siapa yang memuliakan akan Yatim di bulan Ramadhan, Allah akan memuliakannya di hari ia berjumpa dengannya “

Serta Terimakasih untuk para donatur yang senantiasa dengan Iklas untuk berbagi kepada Saudara kita yang membutuhkannya . Semoga Allah membalas atas semua kebaikan yang engkau berikan kepada Saudara kita yang membutuhkannya .


  • 0

Dalil- dalil di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang Amanah

Assalammualaikumwr .wb

Bismillahhirohmannirrohim

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…”

Para Sahabat Muslim yang di cintai Allah, Sebagaimana Pengertian dan Makna Amanah yang sudah di jelaskan di blog sebelumnya  dan kali ini Yayasan Mandiri Amanah akan melanjutkan penjelasan lebih dalam lagi mengenai amanah yaitu, memahami dalil-dalil di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang Amanah

Beberapa Dalil-dalil di dalam Al-Qur’an  yang menjelaskan tentang Amanah,Sebagai berikut :

  1. Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (2/338-339) berkata : Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Ia memerintahkan (kepada kita) untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya. Dalam sebuah hadits dari al Hasan, dari Samurah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanah kepadaorang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangankhianati orang yang telah mengkhianatimu”. [Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dan Ahlus Sunan

Ini mencakup seluruh jenis amanah yang wajib ditunaikan oleh seseorang yang dibebani dengannya. Baik (amanah itu) berupa hak-hak Allah atas hambanya, seperti (menunaikan) shalat, zakat, kaffarat, nadzar, puasa, dan lain-lainnya yang ia terbebani dengannya dan tidak terlihat oleh hamba-hamba Allah lainnya. Ataupun berupa hak-hak sesama manusia, seperti barang-barang titipan, dan yang semisalnya, yang mereka saling mempercayai satu orang dengan yang lainnya tanpa ada bukti atasnya. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkannya untuk menunaikannya. Barangsiapa yang tidak menunaikannya, akan diambil darinya pada hari Kiamat kelak

2.Surat al Anfal/8 ayat 27 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

  1. Surat al Mu’minun/23 ayat 8, atau surat al Ma’arij/70 ayat 32:

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya”.

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (8/227) berkata: “Maksudnya, apabila mereka dipercaya (dalam suatu urusan), mereka tidak berkhianat. Dan apabila mereka mengadakan perjanjian, mereka tidak menyelisihinya. Demikianlah sifat orang-orang yang beriman.

  1. Surat al Baqarah/2 ayat 283:

اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ

“…Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Tuhannya…”.

Dari Uraian di atas  kita dapat lebih mengetahui dalil-dalil mengenai Makna Amanah di dalam Al – Qur’an yang suda di jelaskan dengan Firman ALLAH .

 

Zadanallah ilman wa hirsna

Wasalammualaikum wr . wb


  • 0

Tahukah Makna Amanah yang Sebenarnya . ?

Bismillahirrohmannirohim

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”

Ketahuilah, Para pembaca budiman bahwasannya Amanah adalah suatu siafat yang mulia . Allah Subhanauhu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada setiap muslim untuk menunaikan amanah .

Sahabat muslim Tahukan engkau Makna dari Amanah yang sesungguhnya .?

Makna dari Amanah sesungguhnya adalah segala sesuatu yang dibebankan Allah kepada manusia untuk dilaksanakan (Q.S. 32 : 72) yang tercakup di dalamnya khilafah ilahiyah (khalifat allah, ibad allah), khilafah takwiniah (al-taklif al-syar’iah) dalam kaitannya dengan hablun min allah dan hablun min al-nas.

Manusia diperintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya (Q.S. 4 : 58), hal ini berkaitan dengan tatanan berinteraksi sosial (muamalah) atau hablun min al-nas. Sifat dan sikap amanah harus menjadi kepribadian atau sikap mental setiap individu dalam komunitas masyarakat agar tercipta harmonisasi hubungan dalam setiap gerak langkah kehidupan. Dengan memiliki sikap mental yang amanah akan terjalin sikap saling percaya, positif thinking, jujur dan transparan dalam seluruh aktifitas kehidupan yang pada akhirnya akan terbentuk model masyarakat yang ideal yaitu masyarakat aman, damai dan sejahtera.

Makna Amanah dari beberapa Para Ahli :

  1. Imam Ibnu al Atsir rahimahullah berkata, amanah bisa bermakna ketaatan, ibadah, titipan, kepercayaan, dan jaminan keamanan
  2. Begitu juga al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah membawakan beberapa perkataan dari sahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini. Ketika menafsirkan surat al Ahzab ayat 72, al Hafizh Ibnu Katsir membawakan beberapa perkataan sahabat dan tabi’in tentang makna amanah dengan menyatakan, makna amanah adalah ketaatan, kewajiban-kewajiban, (perintah-perintah) agama, dan batasan-batasan hukum.
  3. Asy Syaikh al Mubarakfuri rahimahullah berkata,”(Amanah) adalah segala sesuatu yang mewajibkan engkau untuk menunaikannya”
  4. Asy Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali -hafizhahullah- menjelaskan, amanah adalah sebuah perintah menyeluruh dan mencakup segala hal berkaitan dengan perkara-perkara, yang dengannya, seseorang terbebani untuk menunaikannya, atau ia dipercaya dengannya. Sehingga amanah ini mencakup seluruh hak-hak Allah atas seseorang, seperti perintah-perintahNya yang wajib. Juga meliputi hak-hak orang lain, seperti barang-barang titipan (yang harus ditunaikan dan disampaikan kepada si pemiliknya, . Sehingga, sudah semestinya seseorang yang dibebani amanah, ia menunaikannya dengan sebaik-baiknya dengan menyampaikan kepada pemiliknya. Ia tidak boleh menyembunyikan, mengingkari, atau bahkan menggunakannya tanpa izin yang syar’i.
  5. Asy Syaikh Husain bin Abdul Aziz Alu asy Syaikh -hafizhahullah- juga menjelaskan : “Para ulama telah berkata, hal-hal yang termasuk amanah sangatlah banyak. Kaidah dan dasar hukumnya adalah segala sesuatu yang seseorang terbebani dengannya, dan hak-hak yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia memelihara dan menunaikannya, baik berkaitan dengan agama, jiwa manusia, akal, harta, dan kehormatan harga diri”.
  6. Asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah-amanah adalah, kepercayaan orang berupa barang-barang titipan, dan perintah Allah berupa shalat, puasa, zakat dan semisalnya, menjaga kemaluan dari hal-hal haram, dan menjaga seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan dosa.

 

Dari uraian di atas dapat diambil suatu intisari bahwa amanah adalah perintah Allah yang melekat pada diri manusia sebagai mukallaf yang wajib dilaksanakan dalam sendi-sendi kehidupan . dan bahwasannya Amanah juga merupakan salah satu sifat wajib bagi para rasul Allah dalam mengemban tugas sebagai penyampai risalah ilahiyah. Manusia sebagai pengikut para Rasul Allah tersebut wajib menjadikan Rasul Allah sebagai suri tauladan dalam setiap gerak langkah kehidupan termasuk di dalamnya memiliki sifat amanah.

Zadanallah ilman wa hirsha