Author Archives: Siti Jamila

  • 0

Tujuan Al- Quran di Ciptakan

Bismiallhoirrrohmannirrohim


Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. untuk disampaikan kepada umatnya dengan banyak tujuan yang dikehendaki Allah. dan Al-Quran ialah kalam Allah yang bermukjizat yang diturunkan kepada nabi s.a.w. yang ditulis di dalam mushaf yang dipindah dengan tawatur dan menjadi ibadat membacanya.

Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak.”Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. (QS. Al Kahfi 18/2-5)

Dan detik-detik Azal menjemput Rosulallah saw pun berkata  :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَاتَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan kepada kalian 2 hal, kalian tidak akan sesat, selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan sunahku.”

Inilah tujuan Diturunkannya Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an diturunkan oleh Allah dengan tujuan sebagai berikut :

1. Untuk membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta menetapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan seru se-kaKan alam, keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan ke-hidupan umat manusia. Hal ini dijelaskan dalam QS AI-lkhlash : 1 -4 dan QS Ali lmran : 64.

2. Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyara-kat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Termaktub dalam QS Asy-Syura : 36-38.

3.   Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyara-kat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Termaktub dalam QS Asy-Syura : 36-38.

4.  Untuk menciptakan persatuan dan kesatu-an, bukan saja antarsuku atau bangsa, tetapi kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman dan rasio, kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kemerdekaan dan determinisme, kesatuan sosial, politik dan ekonomi yang kesemuanya berada di kiwah satu keesaan, yaitu keesaan Allah SWT. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 213 dan QS AI-Anbiya’ : 92 dan SAI-Mu’minun : 52.

5. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia. Mengenai hal ini Allah memerintahkan dalam  QS An-Nahl : 90.

6.  Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia, dengan panduan dan paduan Nur Ilahi. Dalam hal ini Allah menjelaskan dalam QS Al-Mujadilah : 11 dan QS Az-Zumar : 9.

7. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia. Mengenai hal ini Allah memerintahkan dalam  QS An-Nahl : 90.

8.Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab,yakni bahwa umat manusia merupakan satu umatyang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tug as ke-khalifahan. Perhatikan QS AI-Maidah : 2 dan Ali Imran : 104.

Demikianlah mengenai Uraian di atas, Uraian mengenai Tujuan dari Al-Quran di turunkan oleh Allah SWT. Semoga dari membaca ini dapat membuat kita menjadi lebih memahami Al-Quran dan membuat kirta menjadi lebih cinta kepada Al- Quran karena pada akhirnya lah  Al-Quran yang akan menjadi pendamping setia di dalam Alam Kubur kita .


  • 0

Taukah kalian bahwa kita hanya perlu tidur 3 Jam

Bismilahhirrohmannirrohim

Didalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa ada di dalam syurga dan dekat dengan air yang mengalir. Sambil mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar”.(  

Tidur adalah merupakan semua kebutuhan manusia. Dengan tidur yang cukup, maka tubuh akan merasa segar kembali. Tidur adalah mengistirahatkan fisik, jiwa, dan otak dari segala macam aktivitas. Pada saat tidur, tubuh kita memiliki waktu dan kesempatan untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak secara optimal.

Dan taukah kalian bahwa Tidur malam yang baik, pada umumnya orang beranggapan memerlukan waktu yang panjang yaitu sekitar enam hingga delapan jam sehari. Akan tetapi ketahuilah, bahwasanya pendapat ini ditentang oleh para saintis Barat seperti Dr Ray Meddis, seorang profesor di Department of Human Sciences, England University of Technology beliau  mengatakan, bahwa sesungguhnya manusia itu sebenarnya hanya perlu tidur malam selama “TIGA JAM” saja. Tidur yang teratur dapat mengefektifkan waktu kita terutama untuk beribadah di malam hari serta untuk mengerjakan hal-hal lainnya. Di dalam Al-Qur’andisebutkan dengan jelas, ada segolongan manusia yang masuk syurga karena ibadah malamnya dan kurang tidur malamnya.

Ada juga ahli sastra barat yang menceritakan mengenai pentingnya mengurangi tidur untuk mencapai kinerja yang baik. Bila ditanya apakah rahasia kesuksesan mereka? Mereka menjawab: “The woods are lovely, dark and deep but I have promises to keep and miles to go before I sleep.” 

Maksudnya” Taman itu indah, gelap dan tebal tetapi saya mempunyai aturan yang harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum saya tidur.” “The heights by great men reached and kept were not attained by sudden fight. But while their companions sleep were toiling upwards in the night.” – Longfellow

Maksudnya ” Pencapaian kerja yang tinggi oleh orang-orang ternama/sukses tidak didapati serta merta tetapi mereka bekerja keras sehingga larut malam pada waktu teman-temannya yang lain sedang nyenyak tidur.” Ini jelas menunjukkan betapa mereka meminimalkan waktu tidurnya untuk mencapai kesuksesan dalam hidup mereka.

Dan Rasulluallah SAW mengajarkan kepada kita bagaimana Cara tidur yang benar dan baik, Berikut ini caranya :

1. Makan malam sedikit saja cukup sekedar supaya tidak lapar. Jika kita makan malam yang terlalu banyak maka akan menyebabkan kita cepat mengantuk dan susah untuk bangun dari tidur.

2. Tunaikan solat Isya’ sebelum tidur.

3. Bersihkan tempat tidur seperti seprei, bantal, kasur dan lain-lain dari kotoran.

4. Amalkan doa-doa sebelum dan sesudah tidur seperti yang diajarkan Rasulullah S.A.W.

5. Kurangi waktu tidur dari delapan jam sehari menjadi tujuh jam sehari untuk bulan pertama latihan; pada bulan kedua kurangi waktu tidur malam menjadi enam jam sehari, seterusnya pada bulan ketiga menjadi lima jam sehingga kita bisa tidur untuk waktu tiga jam saja.

 

Semoga dengan artikel ini dapat membantu kita untuk lebih memanfaatkan tidur kita menjadi lebih benar dan baik, Serta kita dapat belajar menggunakan Waktu kita dengan sebaik mungkin dari cara dengan mengontrol tidur kita sebaik mungkin .


  • 0

Kiat meningkatkan cinta kita kepada Al-Quran

Bismilahhirrohmannirrohim

وَالَّذِيْنَ آمَنُـوا أَشَـدُّ حُباًّ لله

Adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah.[QS.AL-Baqarah:165]

Ibadah kepada Allah Azza Wajalla semata bertujuan untuk mendapatkan ridha dan rahmat Allah swt. Seorang muslim yang kurang taat, sesungguhnya belum memahami/belum meyakini peranan kasih sayang Allah dalam hidup keseharian, peranan bantuan Allah dalam setiap aktivitas hidup kita, peranan ampunan Allah swt dalam mewujudkan rasa kebahagiaan sejati, dan kemuliaan hakiki.

Kita semua yakin bahwa kita, semua manusia, dan semua makhluk, diciptakan oleh Allah swt. Dialah satu-satuNya Tuhan kita. Hanya Dialah satu-satuNya pencipta, pemberi rezeki, pengatur, pemilik, dan penguasa segenap makhluk.

Tidak ada yang terjadi pada diri kita, keluarga kita,masyarakat kita, bangsa kita, tanpa izin, kehendak,dan kekuasaanNya semata.

Cinta pada Al-Qur’an adalah kewajiban setiap muslim, oleh karena cinta kepada Al-Qur’an adalah manifestasi cinta kepada Allah. Sedang cinta kepada Allah adalah kewajiban setiap muslim sebagai wujud penghayatan iman kepada Allah.

Mencintai AlQur’an adalah kewajiban, karena cinta kepada Al-Qur’an adalah sarana efektif, bahkan menjadi syarat mutlak untuk motivasi yang tinggi, semangat yang berkesinambungan untuk membaca Al-Qur’an, mendengar Al-Qur’an, mempelajari Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, mengajarkan Al-Qur’an, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Bangunlah keykinan kita terhapap Al-Quran bahwa Al-Qur’an yang mulia adalah firman-firman suci Allah swt yang maha pengasih, maha penyayang, maha bijaksana, maha perkasa.

Al-Qur’an yang mulia adalah surat cinta Ilahi kepada segenap manusia, wujud nyata kasih sayang Allah swt kepada segenap hambaNya yang beriman.

Al-Qur’an yang suci adalah kitab yang maha benar, sumber kebenaran mutlak, tidak mengandung kebatilan, kedustaan, dan kesalahan, sedikitpun.

Al-Qur’an adalah kitab mulia yang memuliakan. Al-Qur’an adalah kitab suci yang mensucikan. Al-Qur’an adalah kitab bijak yang membijakkan. Al-Qur’an adalah kitab kuat yang menguatkan. Al-Qur’an adalah kitab indah yang mengindahkan. Al-Qur’an adalah kitab cahaya yang menyinari. Al-Qur’an adalah kitab nyawa yang menghidupkan.

Al-Qur’an adalah kitab obat yang menyehatkan. Al-Qur’an adalah kitab bahagia yang membahagiakan. Al-Qur’an adalah kitab sukses yang menyukseskan. Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang menunjuki. Al-Qur’an adalah kitab nasehat yang membimbing.


  • 0

Mari kita Muhasabah diri sendiri

Bismilahhirrohmannirrohim


Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata,
 “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi).


Para saudaraku yang senantiasa di cintai Allah SWT, kali ini saya akan berbagi mengenai sebuah Muhasabah di dalam islam, Mari kita menymaknya.!


Muhasabah yang di kenal dengan  Instropeksi Diri berarti introspeksi akan dirinya sendiri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan dari masa-masa yang telah lalu . dan Kata  Muhasabah sendiri berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syari, makna definisi pengertian muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya 


Dengan melaksanakan muhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan setiap waktu dari detik, menit, jam dan harinya serta keseluruhan jatah umur kehidupannya di dunia dengan sebaik-baiknya demi meraih keridhoan Allah Ta’ala. 

Dengan melakukan penuh akan perhitungan baik itu dalam hal amal ibadah yang wajib dan sunnah. Serta juga muhasabah terhadap amalan sholeh amalan kebaikan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat secara sosial dan kehidupannya sebagai seorang hamba kepada Allah Sang Khalik. 


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Hasyr (59):18).


Dan taukah kalian bahwa bermuhasabah diri sendiri itu sangat bayak membawakan manfaat untuk kita, manfaat apa sajakah, Berikut ini 

  1. Dengan bermuhasabah diri, maka diri setiap muslim akan bisa mengetahui akan aib serta kekurangan dirinya sendiri. Baik itu dalam hal amalan ibadah, kegiatan yang memberikan manfaat untuk banyak manusia. Sehingga dengan demikian akan bisa memperbaiki diri apa-apa yang dirasa kurang pada dirinya.
  2. Dalam hal ibadah, kita akan semakin tahu akan hak kewajiban kita sebagai seorang hambaNya dan terus memperbaiki diri dan mengetahui hakekat ibadah bahwasannya manfaat hikmah ibadah adalah demi kepentingan diri kita sendiri. Bukan demi kepentingan Allah Ta’ala. Karena kita lah manusia yang lemah dan penuh dosa yang memerlukan akan pengampunan dosa-dosa kita yang banyak.
  3. Mengetahui akan segala sesuatu baik itu kecil maupun besar atas apa yang kita lakukan di dunia ini, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akherat. Inilah salah satu hikmah muhasabah dalam diri setiap manusia.
  4. Membenci hawa nafsu dan mewaspadainya. Dan senantiasa melaksanakan amal ibadah serta ketaatan dan menjauhi segala hal yang berbau kemaksiatan, agar menjadi ringan hisab di hari akhirat kelak.

Demikianlah penjelasan di atas semoga dari penjelasan ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembacanya, dan semoga kita semua dapat bermuhasabah diri sendiri, agar kelak Allah merihai kita dan membimbing kita untuk menggapai JannahNya. Amin

sumber: newsfarras


  • 0

Belajar menumbuhkan sifat Qona’ah di dalam kehidupan

Bismilahhirrohmannirrohim


Qana’ah adalah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakannya serta menjauhkan diri dari dari rasa tidakpuas dan perasaan kurang. Orang yang memiliki sifat qana’ah memiliki pendirian bahwa apa yang diperoleh atau yang ada didirinya adalah kehendak allah .


Qona’ah ynag berfungsi untuk seorang muslim yaitu akan selalu berlapang dada, berhati tenteram, merasa kaya dan berkecukupan, dan bebas dari keserakahan. kekuatan batin yang mendorong seseorang untuk meraih kemengan hidup berdasarkan kemandirian dengan tetap bergantung kepada karunia  Allah swt.

Qanaah tidak lain adalah bersikap ikhlas dan bisa menerima apa yang ada. Sikap qanaah selalu identik dengan bisa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya, sekecil apapun rejeki yang diterimanya. Qanaah menyuruh manusia untuk bersabar dalam menerima ketentuan Illahi jika ketentuan itu menyedihkan dan menyuruh manusia untuk bersyukur jika ketentuan itu berupa kenikmatan yang menyenangkan. Manusia harus ingat bahwa yang menentukan segala sesuatu atasnya adalah Dzat yang menguasai seluruh kehidupan.

Akan tetapi, Qanaah bukan berarti menyerahkan sepenuhnya kepada Allah lalu menunggu rejeki turun begitu saja. Namun dalam sikap qanaah manusia masih harus dituntut untuk selalu berikhtiar dan berikhtiar. Karena kebahagian tidak sepenuhnya disebabkan berlimpahnya materi, kebahagiaan datang dari hati dengan bersikap qanaah, selalu bersyukur dan tidak silau dengan kemewahan duniawi. 

Disebutkan dari riwayat Al-Miswar bin Syaddad, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda:

ما الدنيا في الاخرة الا كمثل ما يجعل احدكم اصبعه في اليم فلينظر بما ترجع رواه مسلم والترمذي وابن ماجاه

Artinya: “dunia itu dibanding akhirat tidak lain hanyalah seperti jika seseorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke lautan, maka hendaklah dia melihat air yang menempel di jarinya setelah dia menariknya kembali.”

Allah pun berfirman: “….dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

 (QS. Ali Imran: 185)


Qana’ah adalah salah satu dari perintah atau petunjuk-Nya untuk kebaikan kehidupan hamba-hambaNya. Maka sebagai hambaNya, sudah seharusnya untuk menjalankan perintahNya. Karena dengan qana’ah, orang akan selalu bahagia dalam keadaan apapun. Baik miskin atau kaya ia akan selalu merasa tercukupi dan puas dengan apa yang ada. Qana’ah merupakan pemberian Allah SWT yang sangat berharga, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

القناعة كنز لا يفنى

Artinya: “Qana’ah merupakan kekayaan yang tiada pernah sirna.”[9] 

Dalam kitab Zabur difirmankan: “Orang yang qana’ah adalah orang kaya walaupun ia lapar”. Allah SWT menjadikan lima perkara dalam lima tempat:

Kemuliaan dalam taat,

Kehinaan dalam maksiat,

Kharisma dalam sahalat malam,

Hikmah dalam batin yang sunyi, dan

Kaya dalam qana’ah.[10]

Orang yang beriman dan melakukan amal shalih menghadapi keberuntungan dengan rasa syukur dan sikap yang membuktikan kesungguhan syukur itu. jika menghadapi bencana maka ia akan bersabar dan berperilaku yang membuktikan kesungguhan kesabaran itu. Dengan demikian, hal itu dapat membuahkan di hatinya kesenangan kegembiraan dan hilangnya kegundahan, kesedihan, kegelisahan, kesempitan dada dan kesengsaraan hidup. Selanjutnya, kehidupan bahagia akan benar-benar menjadi realita baginya di dunia ini.


  • 0

Sebuah Keimanan yang paling Rasulluallah kagumi

Bismilahhirrohmannirrohim


Para sahabat yang di cintai Allah, Kali ini kami akan berbagi mengenai sebuah kisah yang penuh dengan hikmah dan ispiratis untuk kita semua, yaitu Kisah dari Zman Rasullallah saw. kisa apakah itu, Mari kita simak kisahnya. 


Alkisah, suatu ketika Rasulullah saw bermain tebak-tebakan dengan para sahabat. 


Bertanya Rasulullah,  “Tahukah kalian, mereka-mereka yang keimanannya membuatku kagum?”.

 “Aku tahu ya Rasulullah”, seru salah seorang sahabat. 

“Mereka yang engkau maksud itu tentulah para malaikat“. 

“Mengapa engkau berpikir demikian?”, tanya Rasulullah kembali. 

“Karena para malaikat selalu mematuhi semua perintah Allah.


Mereka tidak sekalipun pernah melanggar aturan Allah”, jawab sahabat. 

“Tapi para malaikat memang ditakdirkan untuk selalu mematuhi perintah Allah. 

Mereka tidak diberi kelengkapan hawa nafsu seperti layaknya kita. 

Dan tempat mereka dekat dengan Allah. Wajar jika mereka selalu beriman. Keimanan para malaikat tersebut, sama sekali tidak membuatku kagum”, bantah Rasulullah. 


Para sahabat termangu-mangu dengan jawaban Rasulullah tersebut. Mereka terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa kiranya yang dikehendaki oleh Rasulullah. Tiba-tiba, salah seorang sahabat berseru, “Aku tahu ya Rasulullah, yang Rasulullah maksudkan tentu para nabi dan rasul utusan Allah.


Mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka selalu mematuhi apapun yang Allah perintahkan, apapun resikonya”. Rasulullah tersenyum, “Betul mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt. 

Mereka menerima wahyu dan mendapatkan mukzizat. Wajar jika karena semua itu, mereka beriman kepada Allah”. “Keimanan mereka sama sekali tidak membuat aku kagum”, bantah Rasulullah sekali lagi. Kembali para sahabat ternganga dengan bantahan Rasulullah tadi. Mereka saling berpandangan lalu kembali tenggelam memikirkan jawaban pertanyaan Rasulullah. “Ah…, sekarang saya tahu ya Rasulullah”, kata salah seorang sahabat dengan muka berseri-seri. 


“Mereka yang Rasulullah maksudkan itu tentulah kami, para sahabatmu. Kami manusia biasa, kami juga tidak menerima wahyu, dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat apapun. Meskipun demikian, kami berjanji untuk selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”, jelas sahabat tersebut dengan senyum mengembang diwajahnya. Kembali Rasulullah tersenyum mendengar jawaban salah seorang sahabat tadi, “Betul kalian memang tidak menerima wahyu dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat, namun kalian kan melihat dengan mata kepala sendiri, mukzizat yang aku terima. Kalian juga mendengar dengan telinga kalian sendiri ketika wahyu Allah aku bacakan. Wajar jika karena itu, kalian beriman kepada Allah. Keimanan kalian, sama sekali tidak membuatku kagum”. Kali ini para sahabat betul-betul terhenyak dengan bantahan Rasulullah barusan. 


Dengan perasaan putus asa karena sudah kehabisan akal, akhirnya mereka menyerah, “Kiranya hanya Allah dan rasul-Nya saja yang tahu jawaban pertanyaan Rasulullah tadi”, kata salah seorang sahabat. “Sesungguhnya, mereka yang keimanannya membuatku kagum adalah mereka-mereka yang tidak sekalipun pernah berjumpa denganku. Mereka sama sekali tidak pernah melihat diriku dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka juga tidak sekalipun pernah mendengar suaraku. Dan yang lebih hebat lagi, mereka berabad-abad jaraknya dariku. Tapi kecintaan mereka kepadaku, tak sekalipun perlu aku ragukan”, jawab Rasulullah. “Mereka itulah, yang keimanannya sungguh-sungguh membuat aku kagum”, sambung Rasulullah menegaskan.


Sumber : kisahyangpenuhikmah


  • 0

Kasih sayang yang indah di dalam Islam

Bismilahhirrohmannirrohim

“Kami tidaklah mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam”. QS. Al-Anbiya’: 107.

kasih sayang di dalam islam sebenarnya telah lama di kumandangkannya dengan sempurna dan indah Namun, kebanyakan dari manusia tidak menyadari apa arti sesungguhnya dari kasih sayang itu sendiri, sehingga dapat terhenti dan menyimpang dari aturan-aturan yang telah di firmankan oleh Allah SWT dan sabda-sabda Rasul-Nya. Dalam makna lain Kasih Sayang adalah rasa yang didamba setiap insan di dunia, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya, sebaliknya kasih sayang seorang anak kepada Orang Tuanya. Kasih sayang akan muncul ketika ada perasaan simpatik dan iba dari dalam diri kepada yang dikasihi, namun kemunculan kasih sayang sangat alamiah dan tidak bisa dibuat-buat atau direkayasa.

Dalam menebarkan kasih sayang, Islam tidak hanya berhenti dalam wilayah sesama muslim saja, namun juga merambah hubungan dengan non muslim, Sebagaimana Allah Ta’alla berfirman :

“لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ، وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ”.

Artinya: “Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”. QS. Al-Mumtahanah: 8.

Dan Rasulullah saw. bersabda, “Man laa yarhaminnaasa laa yarhamhullaah” Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya. (H.R. Turmudzi).

Sebuah kisah lain yang menarik ketika Amr bin Ash menaklukkan kota Mesir, saat itu datanglah seekor burung merpati di atas kemahnya.

Melihat kejadian ini, kemudian Amr bin Ash membuat sangkar untuk merpati tersebut di atas kemahnya. Tatkala ia mau meninggalkan perkemahannya, burung dan sangkar tersebut masih ada. Ia pun tidak mau mengganggunya dan dibiarkan burung merpati itu hidup bersama sangkar yang ia buat. Maka kota itu dijuluki sebagai kota fasthath (kemah).

Sudah jelas bukan bahwa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi akan kasih sayang. Kita perlu mencontoh teladan Nabi saw. dan para sahabatnya yang benar-benar merealisasikan makna kasih sayang yang tanpa batas itu, tentunya untuk mencapai keridaan Allah semata yang bukan untuk mencari kesenangan dunia.


  • 0

Ciri – ciri Mu’min yang Beruntung

Bismilahhirrohmannirrohim


Mu’min adalah istilah Islam-Arab, sering dirujuk dalam Quran, secara harfiah berarti “percaya”, dan menandakan seseorang yang memiliki penyerahan sepenuhnya kepada kehendak Allah dan memiliki iman di hatinya , yaitu “orang Muslim yang beriman”. Mukmin adalah istilah Islam dalam bahasa Arab yang sering disebut dalam Al-Qur’an, berarti “orang beriman”, dan merupakan seorang Muslim yang dapat memenuhi seluruh kehendak Allah, dan memiliki iman kuat dalam hatinya. Selain itu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa mu’min tidak serta-merta berarti “orang beriman” namun orang yang menyerahkan dirinya agar diatur dengan Din Islam. Selain itu, mu’min juga dapat dikatakan orang yang memberikan keamanan atas Muslim. Sedangkan  Beruntung memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga beruntung dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya, Penjelasan beruntung tsb pun sudah tertera di salam Al-Qur’an Sebagaimana bunyi surah Al-Mu’minuun ayat 1 :


“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.”  (QS. Al Mu’minuun: 1)


Dan kami akan berbagi mengenai Ciri-ciri Orang Mu’min yang beruntung. Apa sajakah ciri-ciri tsb. ? Mari kita membahasnya.


Dimana Ciri-ciri yang aja kami paparkan ini dari Surah di dala Al-Quran yaitu Al-Mu’nnun, dan sebagaimana Seorang Mu’min yang beruntung adalah orang yang memiliki minimal tujuh sifat ini .


1.(yaitu) orang yang khusyu di dalam shalatnya.” (Qs. Al-Mu’minuun : 2)


Karena Khusyu di dalam shalatnya, yakni shalat yang disertai rasa takut kepada Allahy dan dia yakin akan berjumpa dengan Allahsehingga shalatnya dilaksanakan dengan penuh konsentrasi dan membekas dalam kehidupan sesudah shalatnya.


2.“Dan orang yang menunaikan zakat”. (Qs. Al Mu’minun:4)


Menunaikan zakat sehingga hartanya bersih dari segala kemungkinan yang haram dan hatinya juga bersih dari sifat-sifat yang tercela.


3.“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.” (Qs. Al Mu’minuun : 8)


Harus bisa memelihara amanat yang diberikan kepadanya dan diapun harus mampu mempertangggungjawabkan amanatnya.


4.serta orang yang memelihara shalatnya”. (Qs. Al Mu’minuun : 9)

ciri orang mu’min yang beruntung adalah orang yang mampu memelihara atau menjaga shalatnya, sehingga dia selalu menunaikan shalat dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang telah diwajibkan kepadanya. 


5. Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali tehadap isteri-isteri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa yang mencari dibalik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al Mu’minuun: 5-7)


Menjaga kemaluannya sehingga terhindar dari perbuatan zina. Oleh karena itu, menyalurkan keinginan seksualnya hanya dilampiaskan kepada orang yang telah dihalalkan oleh agama


6. “Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidswak berguna.”    ( Qs. Al Mu’minun : 3)

Menjauhkan dari segala bentuk kesia-sian, baik itu di dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Hal ini membuat ia menjadi manusia yang bisa memberi manfaat di dalam kebaikan


  • 0

Mari kita membersihkan Jiwa kita yang tak luput dari sebuah dosa

Bismilahhirrohmanirrohim


“Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya, sungguh bweruntung orang yang menucikannya (jiwa) itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorimya.”  (QS.  Asy-Syam: 8-10)


Jiwa atau Jiva berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya “benih kehidupan”. Dalam berbagai agama dan filsafatjiwa adalah bagian yang bukan jasmaniah (immaterial) dari seseorang. Biasanya jiwa dipercaya mencakup pikiran dan kepribadian dan sinonim dengan roh, akal, atau awak diri.


Tiada manusia yang akan luput dari khilaf dan dosa. Karena memang Allah menciptakan manusia sebagai tempatnya itu semua. Ingatkah kawan pada firman Allah dalam Q.S Abasa? Dimana Allah menegur langsung sang Rasul khotimul anbiya, Muhammad bin Abdullah karena khilafnya. Namun kita bukanlah Rasulullah yang selalu dibimbing oleh Allah, setiap perkataan dan tindakannya dituntun langsung oleh Rabb semesta alam. Kita hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin terlepas dari ancaman dosa.


Dan kali ini kami akan berbagi mengenai bagaimana cara Membersihkan Jiwa, Buruknya masa lalu, kelamnya hidup di waktu terdahulu tidak layak menghentikan langkah mu untuk terus maju memperbaiki dirimu. Hingga dirimu pun pantas untuk mendapatkan tempat di surga, bersama para orang sholih dan para kekasih-Nya.  di dalam Al Quran Allah SWT, paling tidak disebutkan ada lima kiat yang harus kita lakukan untuk membersihkan jiwa kitaBerikut cara ini Membersihkan Jiwa :


1. Mendirikan Sholat 


 “…dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar…”(Qs. Al Ankabuut:45)


Mendirikan sholat adalah melaksanakan sholat sesuai dengan ketentuannya. Sholat ada dirukun Islam yang ke2, dalam Al Quran menurut para ahli ada 30 perintah mendirikan sholat.


2. Menunaikan Zakat, Inafk dan Shodaqoh

 Allah SWT berfirman:

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman bagi jaiwa mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”  (QS. At Taubah: 103)

Zakat, infak dan sedekah membuat jiwa kita bersih dari sifat terceladalam kaitan dengan harta seperti kikir, terlalu cinta harta, dan lain-lainnya.

4. Takut kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT.

“Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak meloihat-Nya dan mereka yang melaksanakan shalat. Dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menycikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah tempat kembali.”  (Qs. Faathir: 18)

Kekotoran jiwa merupakan akibat dari kemaksiatan, bila takut kepada Allah seseorang tidak melakukannya sehingga jiwanya menjadi bersih, dengan perbanyak Dzikir dan meningkatkan keimanan kita dengan cara takut kepada Allah, ingsyallah jiwa kita akan menjadi bersih .

5. Menerima Dakwah 

 

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”  (Qs. Al Imran:164)

Karena Dakwah atau pembinaan pribadi yang Islami merupaka proses pembesihan jiwa juga dari segala kekotoran.

6. Menjaga dan Memperkuat Ahlak Islami 

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Qs. An Nuur:30)

Pergaulan antar manusia, apalagi lelaki dan wanita harus menjunjung nilai akhlak agar tetap dalam kesucian.


Wahai Sahabatku, Ingatkah kawan pada Abu Bakr Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Khattab, maupun Khalid bin Walid dan shahabat lainnya? Dimana saat masa jahiliyah mereka bukanlah orang yang begitu lembut hati dan tutur perangainya. Mereka bukanlah orang yang beriman. Mereka tidak menyembah kepada Allah yang semestinya. Namun saat islam merasuk dalam sanubari, merekalah sebaik-baik generasi islam.


Tatkala nuranimu ingin menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Ikutilah. Ikutilah apa ingin nuranimu, karena dia suci, dia bening sehingga apa yang dia inginkan adalah kebenaran dan kebaikan. Tak perlu ragu. Tak perlu takut. Setiap manusia memiliki kesempatan dan kepantasan untuk menjadi lebih baik, kendati sejahatnya Abu Sufyan sebelum beriman yang begitu menentang dakwah sang nabi ketika di Mekah, namun rumahnya menjadi jaminan keamanan saat peristiwa Fathul Mekah, tatkala ia telah memilih tunduk kepada Allah Ar-Rahman.


  • 0

Kita harus lebih mengingatnya, bahwa Kematian itu pasti datang

Bismilahhirrohmannirrohim

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu… (QS. Ali Imran [3] : 185).


Kematian merupakan suatu kepastian, yang akan dialami oleh setiap umat manusia yang hidup dialam dunia ini. Bersama dengan bergulirnya waktu dan bertambahnya usia seseorang, pada dasarnya berarti ia telah bertambah mendekati pada titik akhir dari pada kehidupannya.


Muda maupun tua tidak ada yang tahu kapan ajal akan datang. Sesaat yang lalu, mungkin kita masih melihat saudara atau sahabat kita sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun, saat ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Dan kita pun juga tidak tahu kapan kita akan dijemput untuk dikembalikan kepada-Nya.


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,


 “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Anbiyā’ 21 : 35) 


Ketika Malaikat Maut datang menghampiri untuk menjemput seseorang karena ajalnya telah tiba, maka orang itu tidak akan luput dari padanya, kemanapun ia akan berlari untuk bersembunyi, meskipun ia dirawat dan dikelilingi oleh team dokter yang paling ahli sekalipun, dengan peralatan tekhnologi medis yang paling canggih dan mutakhir sekalipun.


Semua itu tidak akan dapat menolong dan menghindar daripada kematiannya. Sebagaimana ditegaskan dalam Qur’an :

  

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jumuah [62]: 8).



Sebagaimana halnya yang disebutkan dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda :


“Sesungguhnya ruh orang mumin itu tidaklah keluar( mati ), sehingga ia melihat tempatnya di surga. Dan ruh orang kafir itu tidaklah akan keluar(mati), sehingga ia melihat tempatnya di neraka”.



Dari bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang Anshar mendatangi Beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mu’min manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaqnya.” “Lalu mu’min manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (H.R. Ibnu Majah). Semoga kita termaksud muslim dan musliham yang selalu mengingat bahwa kematia akan datang, Karena Dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, Syumaith bin ‘Ajlan berkata, 


“Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli dengan kesempitan dunia atau keluasannya.”


Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mayit akan diikuti oleh tiga perkara (menuju kuburnya), dua akan kembali, satu akan tetap. Mayit akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarganya dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan tetap.” (H.R. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi dan Nasa’i)