Category Archives: Lebaran Yatim

  • 0

Tujuan Al- Quran di Ciptakan

Bismiallhoirrrohmannirrohim


Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan dan diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. untuk disampaikan kepada umatnya dengan banyak tujuan yang dikehendaki Allah. dan Al-Quran ialah kalam Allah yang bermukjizat yang diturunkan kepada nabi s.a.w. yang ditulis di dalam mushaf yang dipindah dengan tawatur dan menjadi ibadat membacanya.

Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak.”Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. (QS. Al Kahfi 18/2-5)

Dan detik-detik Azal menjemput Rosulallah saw pun berkata  :

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَاتَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan kepada kalian 2 hal, kalian tidak akan sesat, selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan sunahku.”

Inilah tujuan Diturunkannya Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an diturunkan oleh Allah dengan tujuan sebagai berikut :

1. Untuk membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta menetapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan seru se-kaKan alam, keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan ke-hidupan umat manusia. Hal ini dijelaskan dalam QS AI-lkhlash : 1 -4 dan QS Ali lmran : 64.

2. Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyara-kat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Termaktub dalam QS Asy-Syura : 36-38.

3.   Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyara-kat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Termaktub dalam QS Asy-Syura : 36-38.

4.  Untuk menciptakan persatuan dan kesatu-an, bukan saja antarsuku atau bangsa, tetapi kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman dan rasio, kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kemerdekaan dan determinisme, kesatuan sosial, politik dan ekonomi yang kesemuanya berada di kiwah satu keesaan, yaitu keesaan Allah SWT. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 213 dan QS AI-Anbiya’ : 92 dan SAI-Mu’minun : 52.

5. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia. Mengenai hal ini Allah memerintahkan dalam  QS An-Nahl : 90.

6.  Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia, dengan panduan dan paduan Nur Ilahi. Dalam hal ini Allah menjelaskan dalam QS Al-Mujadilah : 11 dan QS Az-Zumar : 9.

7. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia. Mengenai hal ini Allah memerintahkan dalam  QS An-Nahl : 90.

8.Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab,yakni bahwa umat manusia merupakan satu umatyang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tug as ke-khalifahan. Perhatikan QS AI-Maidah : 2 dan Ali Imran : 104.

Demikianlah mengenai Uraian di atas, Uraian mengenai Tujuan dari Al-Quran di turunkan oleh Allah SWT. Semoga dari membaca ini dapat membuat kita menjadi lebih memahami Al-Quran dan membuat kirta menjadi lebih cinta kepada Al- Quran karena pada akhirnya lah  Al-Quran yang akan menjadi pendamping setia di dalam Alam Kubur kita .


  • 0

Kiat meningkatkan cinta kita kepada Al-Quran

Bismilahhirrohmannirrohim

وَالَّذِيْنَ آمَنُـوا أَشَـدُّ حُباًّ لله

Adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah.[QS.AL-Baqarah:165]

Ibadah kepada Allah Azza Wajalla semata bertujuan untuk mendapatkan ridha dan rahmat Allah swt. Seorang muslim yang kurang taat, sesungguhnya belum memahami/belum meyakini peranan kasih sayang Allah dalam hidup keseharian, peranan bantuan Allah dalam setiap aktivitas hidup kita, peranan ampunan Allah swt dalam mewujudkan rasa kebahagiaan sejati, dan kemuliaan hakiki.

Kita semua yakin bahwa kita, semua manusia, dan semua makhluk, diciptakan oleh Allah swt. Dialah satu-satuNya Tuhan kita. Hanya Dialah satu-satuNya pencipta, pemberi rezeki, pengatur, pemilik, dan penguasa segenap makhluk.

Tidak ada yang terjadi pada diri kita, keluarga kita,masyarakat kita, bangsa kita, tanpa izin, kehendak,dan kekuasaanNya semata.

Cinta pada Al-Qur’an adalah kewajiban setiap muslim, oleh karena cinta kepada Al-Qur’an adalah manifestasi cinta kepada Allah. Sedang cinta kepada Allah adalah kewajiban setiap muslim sebagai wujud penghayatan iman kepada Allah.

Mencintai AlQur’an adalah kewajiban, karena cinta kepada Al-Qur’an adalah sarana efektif, bahkan menjadi syarat mutlak untuk motivasi yang tinggi, semangat yang berkesinambungan untuk membaca Al-Qur’an, mendengar Al-Qur’an, mempelajari Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, mengajarkan Al-Qur’an, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Bangunlah keykinan kita terhapap Al-Quran bahwa Al-Qur’an yang mulia adalah firman-firman suci Allah swt yang maha pengasih, maha penyayang, maha bijaksana, maha perkasa.

Al-Qur’an yang mulia adalah surat cinta Ilahi kepada segenap manusia, wujud nyata kasih sayang Allah swt kepada segenap hambaNya yang beriman.

Al-Qur’an yang suci adalah kitab yang maha benar, sumber kebenaran mutlak, tidak mengandung kebatilan, kedustaan, dan kesalahan, sedikitpun.

Al-Qur’an adalah kitab mulia yang memuliakan. Al-Qur’an adalah kitab suci yang mensucikan. Al-Qur’an adalah kitab bijak yang membijakkan. Al-Qur’an adalah kitab kuat yang menguatkan. Al-Qur’an adalah kitab indah yang mengindahkan. Al-Qur’an adalah kitab cahaya yang menyinari. Al-Qur’an adalah kitab nyawa yang menghidupkan.

Al-Qur’an adalah kitab obat yang menyehatkan. Al-Qur’an adalah kitab bahagia yang membahagiakan. Al-Qur’an adalah kitab sukses yang menyukseskan. Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang menunjuki. Al-Qur’an adalah kitab nasehat yang membimbing.


  • 0

Apa itu Zakat Profesi . ?

Bismilshhirrohsnnirrohim


Assalammualaikum ukhty dan Akhi, kali ini saya akan berbagi mengenai sebuahMateri tentang Zakat lagi, yaitu Zakat Profesi. Pasti masih banyak yang belum mengetahui dengan jelas zakat tsb kan. Nah Mari Kita bahas.

” Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan) Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S. al-Baqarah: 267) 

Sebelumnya ini arti dari Zakat Umum yaitu, Zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh pemeluk agama Islam untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerima, seperti fakir miskin dan semacamnya, sesuai dengan yang ditetapkan oleh syariah.

Zakat termasuk ke dalam rukun Islam dan menjadi salah satu unsur yang paling penting dalam menegakkan syariat Islam. Oleh karena itu hukum zakat adalah wajib bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat juga merupakan bentuk ibadah seperti sholat, puasa, dan lainnya dan telah diatur dengan rinci berdasasti masih banyak yang kan Al-quran dan Sunah.

Menurut Yusuf Qardlawi,  kategori zakat profesi (yang wajib dizakati) adalah segala macam pendapatan yang didapat bukan dari harta yang sudah  dikenakan zakat. Artinya, zakat profesi didapat dari hasil usaha manusia yang mendatangkan pendapatan dan sudah mencapai nishab. Mahjuddin berpendapat, zakat profesi memiliki arti zakat yang dikeluarkan dari sumber usaha profesi atau pendapatan jasa. Dalam bukunya Masail Fiqhiyah, Masjfuk Zuhdi juga memberikan keterangannya tentang zakat profesi, yaitu zakat yang diperoleh dari semua jenis penghasilan yang halal yang diperoleh setiap individu Muslim, apabila telah mencapai batas minimum terkena zakat (nishab) dan telah jatuh tempo / haul-nya .

“Setiap orang muslim wajib bersedekah, Mereka bertanya: “Wahai Nabi Allah, bagaimana yang tidak berpunya?, Nabi menjawab:” Bekerjalah untuk mendapat sesuatu untuk dirinya, lalu bersedekah”. Mereka bertanya kembali: ”Kalau tidak mempunyai pekerjaan?, Nabi menjawab: “Kerjakan kebaikan dan tinggalkan keburukan, hal itu merupakan sedekah.” (H.R Bukhari) 

Mengenai istinbath hukum tentang kewajiban membayar zakat profesi, terlebih dahulu mencari landasan hukumnya pada nash-nash al- Qur’an. Oleh karenanya, ketika mencari landasan hukum kewajiban membayar zakat profesi, Adapun profesi yang wajib zakat adalah profesi yang dilakukan oleh manusia dengan keahlian tertentu yang dilakukan dengan mudah dan mendatangkan hasil (pendapatan) yang cukup melimpah (di atas rata-rata pendapatan penduduk)

Dan taukah kalian bahwa Kewajiban membayar zakat profesi adalah sesuai dengan tuntunan Islam yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, kemauan berkorban, belas kasihan, dan suka memberi dalam jiwa seorang Muslim. Sesuai pula dengan prinsip kemanusiaan yang memang harus ada dalam masyarakat; ikut merasakan beban orang lain dan menanamkannya dalam keyakinan beragama juga, sebagai pokok sifat kepribadiaannya


  • 0

Berdoalah dalam hal apa pun

Bismilahhirrohmannirrohim

Berdoa kepada Allah merupakan perkara yang sangat penting dan sekaligus mulia. Orang yang rajin berdoa kepada Allah bukan berarti ia menjadi orang yang hina dan lemah.

Memang Benar, ia hina di hadapan yang Maha Mulia, Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Memang Benar, ia lemah di hadapan Yang Maha Perkasa, Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Tetapi taukah kalian bahwa ia bukan orang yang hina dan lemah di hadapan manusia. Kenapa? Karena orang ini berarti sangat faham kedudukan dirinya yang sebenarnya di dunia ini. hanya dengan menghadapkan wajah kepada Allah sematalah seseorang bakal meraih kemuliaan sejati.

”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 2969. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

Di antara salah satu keutamaan tauhid asma’ wa shifat adalah bahwasannya seseorang tidaklah mungkin menyembah Allah Ta’ala dengan sempurna sampai dia mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala sehingga dia menyembah Allah Ta’ala atas dasar ilmuHanya milik Allah-lah nama-nama yang husna. 


Maka berdoalah dengan menyebut nama-nama yang husna itu.” (QS. Al-A’raf [7]: 180)

Berdasarkan ayat tersebut, maka termasuk kesempurnaan dalam berdoa adalah seseorang menjadikan perantaraan (ber-“tawassul”) dalam doanya dengan menyebutkan nama-nama Allah Ta’ala yang sesuai dengan isi permintaannya. Jika kita ingin meminta rizki, maka kita ber-tawassuldengan nama Allah “Ar-Rozzaaq” (Yang Maha pemberi rizki). Jika kita meminta ampun kepada Allah, maka kita ber-tawassul dengan nama Allah “Al Ghofuur” (Yang Maha mengampuni). Inilah salah satu bentuk tawassul dalam berdoa yang disyariatkan. Bahkan inilah yang telah dicontohkan oleh para Rasul ketika mereka berdoa kepada Allah Ta’ala.

Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah Ta’ala,

فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ

”Maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’raf [7]: 155)

Dan Saudaraku, perlu diketahui pula bahwa bagi Allah adalah sangat mudah untuk mengabulkan doa seseorang . Tetapi ada syaratnya. Hendaklah si Muslim berdoa dalam keadaan hati yang hadir, hati yang bersungguh-sungguh mengharapkan ijabah (pengabulan) dari Allah dan tentunya hati yang tidak lalai. Semoga Allah senantiasa mendengarkan dan mengabulkan segenap doa kita yang isinya mendatangkan keridhaanNya.

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan di-ijabah dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (HR Tirmidzi 3401)


  • 0

Saudaraku Jauhilah sebuah Sihir

Sihir adalah sistem konseptual yang merupakan kemampuan manusia untuk mengendalikan alam (termasuk kejadian, objek, orang dan fenomena fisik) melalui mistik, paranormal, atau supranatural. Dalam banyak kebudayaan, sihir berada di bawah tekanan dari, dan dalam kompetisi dengan ilmu pengetahuan dan agama.

Jauhkan dari tujuh dosa yang merusak Mereka berkata Apakah itu ya Rasulullah Dia menjawab Bergaul mitra dengan Allah berlatih sihir mengambil kehidupan yang Allah telah dilarang kecuali untuk tujuan yang benar menurut Hukum Islam makan riba riba memakan kekayaan anak yatim melarikan diri dari medan pertempuran di saat berjuang dengan orang-orang kafir . dan menuduh wanita suci yang tidak pernah memikirkan apa pun yang dapat menyentuh kesucian mereka dan yang percaya baik dari percabulan

Selain itu ahli-ahli sihir akan memanipulasi berpikiran sederhana orang-orang naif untuk percaya kekuasaan mereka dan dengan demikian sihir juga. Ini menyebabkan orang percaya terhadap sihir dan karenanya menuntun mereka jauh dari Allah. Tindakan tersebut dianggap jahat atau setan karena hanya Setan berusaha untuk menghapus orang-orang beriman dari iman mereka kepada Allah.

Sihir terbagi dua macam, yang pertama dilakukan dengan menggunakan bantuan setan, maka ini termasuk dalam syirik Akbar, mengeluarkan pelakunya dari islam. Jenis yang kedua adalah sihir yang menggunakan obat-obatan atau daun-daunan tanpa meminta bantuan dari setan, maka pelaku perbuatan sihir ini jatuh para perbuatan yang haram

Sihir adalah dosa besar, termasuk dalam syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari islam. Sihir termasuk dalam syirik akbar karena pelakunya bekerjasama dengan setan dalam mempengaruhi sesuatu. Sihir tidak terjadi melainkan pelakunya sudah mempelajari dan mengamalkan perbuatan kekafiran terlebih dahulu, yaitu syarat-syarat yang ditetapkan oleh setan untuk kafir kepada Allah. Adapun tukang sihir maka dalam islam dihukumi kafir karena perbuatannya bekerjasama dengan setan. Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 102).

Magic hampir tidak pernah digunakan untuk tujuan yang baik meskipun sebagian orang akan mengklaim bahwa menyebutnya sihir putih. Tetapi bahkan jika sihir digunakan untuk niat baik itu tetap merupakan fakta bahwa itu tergantung pada kekuatan dan kemampuan yang tidak alami sesuatu yang tidak Allah berikan jika tidak Dia tidak akan melarangnya . Belum lagi bahwa praktek sihir putih adalah lereng licin untuk turun ke ilmu hitam yang umumnya merugikan semua dan manfaat tidak ada.

Demikianlah mengenai sihir Semoga Allah menjauhkan kita dari Sihir dan pengaruhnya. Serta menambahkan kita Ilmu yang bermanfaat dan amal-amal shalih yang diterima.


  • 0

Pelajarilah… Karakter yang menghantarkan kita kepada Kesuksesan Dunia dan Akhirat

Bismillahhirohmannirrohim


Para Sahabat Mandiri Amanah yang senantiasa membaca artikel” inspirasi dari Mandiri Amanah, Kali ini saya akan membahas mengenai Sebuah karakter yang akan menghantarkan kita kepada sebuah Kesuksesan Dunia dan Akhirat, pasti semua orang menginginkan itu bukan, Menjadi seorang Khalifah yang sukses Dunia, Akhirat. Di dalam Al-Quran menjelaskan bahwa :


وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) 


“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ‘Ashr: 1-3) 


Agar kita tidak menjadi Manusia yang merugi di kehidupan Dunia yang fana ini, kita harus menjadi manusia yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran karena dari apa yang sudah di jelaskan di dalam Al-Quran akan menghantarkan kita juga kepada Kehidupan Akhirat yang kita idamkan yaitu Surga. 


Balik lagi ke sebuah Karakter, Kalian harus tau ini, karakter apa saja yang akan menghantarkan kita kepada sebuah Kesuksesan Dunia dan Akhirat, Mari kita bahas karakter tsb .


1. Kejujuran

Kejujuran adalah sebuah akhlak yang sangat mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian wajib untuk jujur. Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan. Dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga” (HR. Muslim). Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kejujuran adalah jalan yang lurus dimana orang yang tidak menempuh jalan tersebut, dia akan celaka dan binasa. 


Beliau bersabda : 

Hati-hatilah kalian dari dusta. Sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada maksiat, dan maksiat akan mengantarkan kepada neraka” (HR. Muslim).


2. Amanah

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya” (QS. An Nisaa : 58). Syaikh Ibnu ‘Utsaiminrahimahullah mengatakan, “Amanah itu pembahasannya luas sekali. Dan pada intinya, amanah ada pada dua hal : amanah yang berkaitan dengan hak-hak Allah, yakni amanah yang diemban seorang hamba untuk beribadah kepada Allah dan amanah yang berkaitan dengan hak manusia” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/463).


3.Memenuhi Janji

Memenuhi janji adalah diantara sifat seorang mukmin. Adapun tidak memenuhi janji adalah diantara sifat munafik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga : Jika berkata maka berdusta, jika diberi amanah maka berkhianat, dan jika berjanji maka melanggar” (HR. Bukhari dan Muslim).


4. Menjaga Pndangan

Ibnul Qayyim mengatakan, “Pandangan adalah penunjuk jalan serta utusan syahwat. Menjaga pandangan adalah modal pokok untuk menjaga kemaluan. Siapa yang tidak menjaga pandangannya, dia telah menempatkan dirinya ke tempat kehancuran” (Al Jawaabul Kaafi, hal. 216). Oleh karena itu, menjaga kemaluan tergantung kepada menjaga pandangan. Orang yang mampu menjaga pandangannya, akan mampu menjaga kemaluannya dengan izin Allah.


5. Dermawan (berbagi/shodaqoh)

Ahli tafsir menerjamahkan “Pinjaman yang baik” dengan makna “Menafkahkan harta di jalan Allah”, yakni menyumbangkan hartanya untuk kebaikan dan meringankan beban orang lain, seperti kaum dhuafa dan mendanai orang yang berjihad di jalan Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik dia laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah akan melipat gandakan (pembayarannya oleh Allah) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Q.S.Al-Hadid : 18).

6. Sabar

Seorang muslim harus memiliki sifat sabar, karena sabar merupakan salah satu inti kunci sukses dunia akhirat dan seorang muslim harus menahan dirinya dari kesusahan serta menghadapinya sesuai ajaran islam, menjaga lisan dari celaan, menahan amarah dan badan dari perbuatan dosa.

7. Husnudzan

Selalu berprasangka baik/husnudzan dalam kehidupan merupakan kunci sukses dunia akhirat yang berikutnya, berprasangka baikbertujuan agar tidak terciptanya penyakit hati. Jika setiap orang menerapkan perilaku husnudzan, maka akan terciptanya masyarakat yang harmonis dan saling menjaga. Tidak akan ada masalah yang timbul karena prasangka-prasangka buruk (su’uzan) tidak ada dalam hati mereka.

Adapun bentuk-bentuk dari husnudzan sebagai berikut:

  • Berhusnudzan kepada Allah
  • Berhusnudzan kepada diri sendiri
  • Berhusnudzan kepada orang lain

8. Iklas

Ikhlas adalah menerima apa yang ada dan mampu menjalankannya tanpa perlu pujian dari orang lain, hanya mengharapkan ridho Allah. Menggantungkan harapan hanya kepada Allah, dengan mengikhlaskan dan meluruskan niat untuk mengharapkan ridho Allah. 

9. Bersyukur

Bersyukur merupakan kunci sukses dunia akhirat yang sangat penting, dengan menerima apa yang ada, tentunya kita harus mensyukurinya dengan mengucapkan “Alhamdulillah”, diikuti dengan hati dan di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.


sumber : buletin muslim, belajar islam .

Demikianlah mengenai Karakter/sifat-sifat ini Semoga kita semua dapat menjadi seorang Khalifah yang sukses di Dunia dan Ahkirat. dan Semoga Allah agar memberikan kepada kita taufik-Nya serta membantu kita untuk melaksanakan sifat” tsb yang menghantarkan kita pada ke suksesan yang di ridhai Allah


  • 0

Menggapai RidhaNya

“Katakanlah (ya Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa dosamu.” (Ali Imran:31).


Kata ridha berasal dari bahasa Arab yang makna harfiahnya mengandung pengertian senang, suka, rela, menerima dengan sepenuh hati, serta menyetujui secara penuh , sedang lawan katanya adalah benci atau tidak senang. ]

Para saudaraku yang senantiasa di cintai Allah swt,kali ini YMA akan berbagi mengenai Ridho Allah, Ridho itu artinya rela, mencari Ridho Allah artinya mencari apa yang membuat  Allah rela pada kita.yang dimaksud mencari Ridho Allah itu tidak hanya sholat dan ibadah dengan tekun dimasjid. Tidak hanya berzikir atau mengaji, namun memiliki makna yang sangat luas. Ini menyangkut filosofi hidup , menyangkut ideologi .Konskwensinya sangat luas, seorang yang mencari Ridho Allah maka ia akan mengikuti apa yang diinginkan Allah, Ia akan banyak berbuat baik, berhati lembut, tidak suka menyakiti perasaan saudara , menjaga keamanan sosial, banyak berkorban untuk manusia dan titik akhirnya adalah memanifestasikan kehendak Allah. Sikap-sikap baik yang membiaskan rahmat bagi semesta alam inilah yang menjadi ukurannya.

Nah bagaimana cara menggapai Ridha Allah, Berikut ini cara menggapai Ridha Allah swt :

Beriman kepada Allah swt.

  • Syarat mutlak bagi orang yang ingin memperoleh ridha Allah swt.

ialah beriman akan adanya Allah Dzat Yang Mencipta dan Mengatur alam semesta, beriman kepada para rasul, malaikat, kitab-kitab, hari kiamat dan qadla’ serta qadar Allah swt.

فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه احدا “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang (sesuatu apa) pun dalam beribadat kepada-Nya”

  • Beramal Saleh

Jika seorang mukmin hanya beribadah kepada allahs wt sementara tidak berbuat baik kepada sesama umat manusia, maka ia termasuk orang mukmin yang kurang baik. Begitu pula jika ia hanya berbuat baik kepada sesama manusia akan tetapi tidak melakukan shalat, puasa dan kewajiban agama lainnya maka ia juga termasuk orang mukmin yang kurang baik.

Membimbing nafsu ke arah yang positif.

Agar seseorang memperoleh ridha Allah swt., maka ia harus mampu membimbing nafsunya ke arah yang popsitif. Misalnya nafsu makan, dijadikan dorongan untuk bekerja keras mencari rizki yang halal, nafsu ingin marah dijadikan dorongan untuk membangkitkan semangat untuk berjuang membela kebenaran

يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضية مرضية فادخلي فى عبادي وادخلي جنتي “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”.

  • Selalu mensyukuri nikmat Allah swt.

Sebagai orang mukmin yang telah banyak memperoleh nikmat Allah, baik berupa nikmat iman dan Islam, nikmat sehat jasmani dan rohani, nikmat kemerdekaan, ketenangan dan ketentraman, maupupn nikmat rizki yang cukup dan sebagainya, maka kita wajib selalu mensyukuri nikmat-Nya dengan memuji-Nya, memanfaatkan nikmat tersebut sesuai dengan perintah-Nya serta meningkatkan takwa kepada-Nya.

  • Sabar dan ridha terhadap ketetapan Allah.

Ridha (ikhlas) menerima semua ketetapan Allah merupakan syarat mutlak mendapatkan ridha Allah. Seseorang yang mampu melembagakan sikap suka rela atas perintah dan ketetapan Allah akan disambut oleh ridha Allah pula. Seseorang yang melaksanakan perintah-perintah Allah secara terpaksa tidak akan memperoleh ridha Allah:

لا إكراه فى الدين قد تبين الرشد من الغي

“Tidak ada paksaan dalam (memasuki) agama. Telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah…”  (QS. al-Baqara: 256)

Demikianlah mengenai ridha allah ini, semoga artikel ini bermanfaat dan senantiasa kita semua mendapat ridha dari Aklah Swt


  • 0

Belajar Mengenal Hati Nurani

Bismilahhirrohmannirrohohim


Hati nurani berasal dari bahasa Latin yaitu Conscientia yang berarti kesadaran. Hati nurani juga bisa diistilakan sebagai suara hati, suara batin, atau kata hati,Hati nurani erat kaitannya dengan kesadaran diri. Dalam artian, seseorang yang mempunya hati nurani berarti ia memiliki kesadaran untuk membedakan antara tindakan yang benar dan salah. Biasanya hati nurani muncul dalam bentuk bisikan halus yang datang dari jiwa paling dalam, hanya sepintas, bersifat jujur dan intuitif (pemahaman sesuatu tanpa penalaran rasional).


Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk dan tubuhmu, tetapi Dia memandang hati dan perbuatanmu,” (HR Muslim). Maka, jika akal dapat memahami adanya Tuhan secara rasional, kalbu pun dapat merasakan kehadiran Tuhan dan bahkan merasakan kedekatan dan keintiman dengan Tuhan. dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, kalbu (qalb) dalam diri manusia merupakan titik pusat pandangan Tuhan pada diri manusia. Bahkan, hal yang menjadi hakikat manusia adalah qalb (kalbu, hati)-nya. Ia adalah zat halus yang bersifat Ilahiah, yang dapat menangkap hal-hal qaib yang bersifat ruhaniah. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi (QS 24:35), cahaya seperti ini pula terdapat dalam kalbu manusia, yang tentu saja berasal dari cahaya Ilahi. Kita mengenal kata “nurani” atau “hati nurani” yang sering dikaitkan dengan hati manusia.


Jika seseorang yang memiliki hati nurani ini berbuat dosa dan kesalahan, maka ia akan menggores bekas di hatinya. Seperti bayangan hitam yang menutupi bagian kalbunya. Semakin banyak seseorang melakukan dosa, maka semakin memudarlah cahaya Ilahi di dalam dirinya. Maka, perbuatan yang dilakukan oleh seseorang merupakan tembok pemisah antara dirinya dan Tuhan.
Allah SWT berfirman,


“Maka, apakah engkau tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada,” (QS 22: 46).

Suara-suara tersebut yang menunjukkan kita dan memerintahkan kita untuk melakukan apa yang baik dan benar adalah suara hati nurani. Dalam salah satu ayat Qur’an, Allah SWT berfirman “dua jalur” (Qur’an, 90:10). Dengan kata lain, sebagai tambahan suatu suara yang memanggil kebaikan, satunya lagi memanggil kejahatan. Mengetahui keduanya, ada orang yang mengikuti jalan Tuhan, hati nurani mereka, atau mengikuti kejahatan, setan.

Allah SWT juga mengungkapkan dalam Al-Qur’an bahwa ia menampakkan kejahatan dan cara melindungi diri dari kejahatan tersebut: Demi jiwa dan penyempurnaan cipta


  • 0

Wahai saudaraku, Janganlah terlalu Mencintai Dunia


Bismilahhirrohmannirroh

Rasulullah saw bersabda, “Akan tiba suatu saat di mana seluruh manusia bersatu padu melawan kalian dari segala penjuru, seperti halnya berkumpulnya manusia mengelilingi meja makan.”

Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah jumlah Muslim pada saat itu sedikit?”

Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah jumlah Muslim pada saat itu sedikit?” 

Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. 

Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani)

Cinta dunia dan takut mati adalah dua hal yang menyebabkan umat Islam tidak bermartabat, dan dalam sebuah hadits , Nabi shalallahu’alaihi wa sallam menyebut “penyakit umat” ,karena penyakit itu, umat Islam menjadi seperti buih di lautan yang terombang-ambing ombak. Mereka tidak punya pendirian, mengorbankan idealisme, bersikap pragmatis bahkan oportunistis, terbawa arus, dan menyimpang dari jalan yang sudah digariskan Allah subhanahu wa ta’ala Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda :

سنن أبي داوود ٣٧٤٥: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Sunan Abu Daud 3745: dari Tsauban ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

Mncintai dunia berarti mengagungkan dunia, padahal ia sangat hina di mata Allâh Azza wa Jalla termasuk dosa yang paling besar adalah mengagungkan sesuatu yang direndahkan oleh Allâh Azza wa Jalla . dan taukah kalian bahwasannya tujuan hidup seorang Muslim adalah akhirat, bukan dunia. Akhirat surga) merupakan puncak cita-cita seorang Muslim. Orang yang beriman dan berakal memandang dunia dan akhirat dengan sudut pandang yang benar.

Cinta seseorang kepada akhirat tidak akan sempurna kecuali dengan bersikap zuhud terhadap dunia. Sementara, zuhud terhadap dunia tidak akan terealisasi melainkan setelah ia memandang kedua hal ini dengan sudut pandang yang benar.

Bagaimana cara agar kita senantiasa lebih mencintai kehidupan untuk di akhirat dari pada dunia, Berikut ini caranya :

1. Berdzikir “Laa illaha illallah”

Berdzikirlah sebanyak banyak nya setiap waktu, luangkan waktu kita untuk berdzikir.

2.Jaga Shalat 5 waktu.

Jagalah sholat wajib tersebut dengan baik, amalkan juga sholat tahajjud, dan berdoalah memohon ampunan Allah swt .

3. Sedekah.

Bersedekahlah setiap hari, sedekah bisa berupa harta, makanan, tenaga, buku, pakaian dan lain lainnya.

Yang penting, lakukan dengan kontinu atau istiqomah.

4. Mengharap Ridho Allah swt.

Saat bekerja mencari nafkah, niatkan untuk hanya mencari ridho Allah swt semata.

5. Selalu tersenyum.

Walaupun sedang ada masalah, selalulah tersenyum.

Karena masalah takkan pernah habis selama kita masih hidup didunia ini.

Itulah kehidupan.

Dan, yakinlah bahwa setiap masalah selalu ada solusinya dari Allah swt, yang penting kita tetap ikhtiar.

6. Perbanyaklah berbuat kebaikan.

Semua makhluk hidup pasti merasakan mati.

Sedangkan kita tak pernah tahu kapan kematian akan datang menjemput, bisa hari ini, besok atau lusa.

Jadi, selalulah berbuat baik selagi masih ada kesempatan.

7. Cinta hanya pada Allah swt semata.

Jadikan hati kita selalu mencintai Allah swt diatas segalanya.

Apapun yang kita lakukan atau jalani semua hanya karena Allah swt semata, karena kita hanya mengharapkan ridhoNYA.

Marilah sahabat untuk terus mencoba dan belajar menjadi lebih baik di setiap harinya, karena saya juga masih terus dan terus belajar  mencoba untuk istiqomah. Serta kita kembalikan lagi pada kebaikan niat untuk saling mengajak dan mengingatkan.


  • 0

Kisah mengenai Infak di Zaman Rasulallah Saw

Bismilahhirrohmannirrohim

Para saudaraku yang senantiasa di Rahmati Allah swt, Kali ini YMA akan berbagi mengenai sebuah kisah di zaman Rasulullah swt, Kisah yang sangat mengispirasi kita kalanga muda dan seluruh umat manusia untuk berinfaq, Mari simak ceritanya .!!!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Tidak seorang pun di antara kalian kecuali dia akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. Tidak ada penerjemah antara dirinya dengan Allah. Kemudian ia melihat ternyata tidak ada sesuatu pun yang ia persembahkan. Selanjutnya, ia menatap ke depan ternyata neraka telah menghadangnya. Oleh karena itu, barang siapa di antara kalian yang bisa menjaga diri dari neraka, meski hanya dengan (memberikan) sebelah kurma (maka lakukanlah). ”

Pada suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, unta beliau menderum di kebun milik dua orang anak dari kalangan sahabat beliau. Maka, tempat itulah yang dijadikan sebagai areal masjid. Kedua anak tersebut lebih memilih menghibahkan tanah itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di dalam hadis tentang peristiwa hijrah yang panjang disebutkan, “Lalu, beliau mengendarai binatang tunggangannya dengan diiringi orang-orang. Sampai akhirnya, binatang tersebut menderum di lokasi (calon) masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Di tempat itu, hari itu juga beliau mendirikan shalat bersama kaum muslimin. Lokasi tersebut adalah kebun kurma milik Suhail dan Sahl, dua orang anak yatim yang berada di bawah asuhan As’ad bin Zurarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika binatang tunggangannya menderum di tempat tersebut, ‘Tempat ini, insya Allah, akan menjadi tempat tinggal (saya).’ Kemudian, beliau memanggil dua orang anak pemilik tanah tersebut dan menawar tanah mereka untuk dijadikan masjid. Keduanya berkata, ‘Tidak, bahkan kami menghibahkannya untukmu, wahai Rasulullah.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam enggan untuk menerimanya sebagai hibah, hingga beliau membelinya dari keduanya ….”
(H.r. Bukhari, no. 3906)

Lihatlah, salah seorang dari kaum muda sahabat. Ketika ia menerima warisan dari ibunya berupa sejumlah harta yang menyenangkan jiwa, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sedekah yang mesti ia keluarkan. Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir, ia berkata, “Seorang anak datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam –menurut riwayat lain, “Seorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam–, ‘Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dan meninggalkan perhiasan. Apakah aku boleh menyedekahkannya atas nama ibuku?’ Beliau bertanya, ‘Ibumu menyuruhmu untuk melakukannya?’ Ia berkata, ‘Tidak.’ Beliau bersabda, ‘Tahanlah kalung ibumu itu.’”

Ubaidillah bin Abbas terkenal sebagai seorang dermawan. Ibnu Sa’ad berkata, “Abdullah dan Ubaidillah, dua orang putra Abbas. Jika keduanya datang ke kota Mekah maka Abdullah menyebarkan ilmu ke segenap penduduknya, sedang Ubaidillah membagi-bagikan makanan untuk mereka. Ubaidillah adalah seorang pedagang.”

Pada perisitiwa perang Khandaq, di saat penderitaan kaum muslimin menjadi-jadi, Jabir merasa sedih melihat kondisi yang menimpa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia memiliki kisah kepahlawanan tersendiri yang ia tuturkan sendiri, “Pada hari-hari pertempuran Khandaq, kami menggali parit. Ada sebongkah batu keras yang menghalang. Orang-orang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Ada batu keras yang melintang di parit.’ Beliau bersabda, ‘Aku yang akan turun (tangan).’ Lalu, beliau berdiri, sedangkan ketika itu ada batu yang terikat di perut beliau. Kami melewati tiga hari tanpa menyantap makanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil godam dan memukulkannya (ke batu), hingga batu itu hancur menjadi pasir berhamburan. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, izinkan aku kembali pulang ke rumah.’ Aku berkata kepada istriku, ‘Aku melihat pada diri Rasulullah sebuah kesabaran. Apakah kamu ada sedikit makanan?’ Istriku menjawab, ‘Aku punya gandum dan seekor anak kambing.’ Aku pun menyembelih kambing dan menumbuk gandum. Lalu, aku masukkan daging ke dalam periuk.

Aku datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika adonan telah melunak dan daging dalam wadah di atas tungku hampir matang. Aku berkata, ‘Aku mempunyai sedikit makanan, silakan Anda datang bersama satu atau dua orang ke rumahku.’ Beliau bertanya, ‘Seberapa banyak makanan itu?’ Aku beritahukan jumlahnya. Beliau bersabda, ‘Makanan yang banyak dan baik.’ Beliau melanjutkan, ‘Katakan kepada istrimu untuk tidak mengangkat pembakaran dan adonan roti dari perapian hingga aku datang.’ Beliau berkata kepada para sahabatnya, ‘Bangkitlah kalian!’ Maka, segenap kaum Muhajirin dan Anshar bangkit berdiri.” Ketika Jabir masuk menemui istrinya, ia berkata, “Rasulullah akan datang bersama kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang ada bersama mereka.” Istrinya bertanya, “Apakah beliau menanyakan sesuatu kepadamu?” Jabir menjawab, “Ya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Masuklah kalian dan jangan berdesak-desakan.”

Beliau mulai memotong-motong roti dan menaruh daging di atasnya, lalu menutup periuk dan perapian bila mengambil (daging atau roti) darinya. Lalu, beliau mendekatkannya kepada para sahabatnya dan mengambilkannya. Beliau terus memotong-motong roti hingga semua orang kekenyangan, dan ternyata makanan itu masih tersisa.” Jabir berkata kepada istrinya, “Makanlah ini dan hadiahkanlah, sungguh orang-orang sedang ditimpa kelaparan.” (H.r. Bukhari, no. 4101; Muslim, no. 2039)

Sumber : kisahmuslim ,Biografi Generasi Muda Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, Zam-Zam, Cetakan 1, 2009.

Demikianlah mengenai kisah ini, Semoga dari kisah yang kami bagikan ini dapat menyadarkan generasi muda dan lainnya agar tidak lupa untuk berinfak, Alangkah bagusnya bila generasi muda melatih dirinya berinfak serta sedekah , karena dari apa yang kita infak dan sedekahkan pasti di balas dengan Allah dengan lipatan ganda yang sudah di janjikan .