Category Archives: Uncategorized

  • 0

Mari kita Muhasabah diri sendiri

Bismilahhirrohmannirrohim


Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata,
 “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi).


Para saudaraku yang senantiasa di cintai Allah SWT, kali ini saya akan berbagi mengenai sebuah Muhasabah di dalam islam, Mari kita menymaknya.!


Muhasabah yang di kenal dengan  Instropeksi Diri berarti introspeksi akan dirinya sendiri, menghitung diri dengan amal yang telah dilakukan dari masa-masa yang telah lalu . dan Kata  Muhasabah sendiri berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syari, makna definisi pengertian muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya 


Dengan melaksanakan muhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan setiap waktu dari detik, menit, jam dan harinya serta keseluruhan jatah umur kehidupannya di dunia dengan sebaik-baiknya demi meraih keridhoan Allah Ta’ala. 

Dengan melakukan penuh akan perhitungan baik itu dalam hal amal ibadah yang wajib dan sunnah. Serta juga muhasabah terhadap amalan sholeh amalan kebaikan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat secara sosial dan kehidupannya sebagai seorang hamba kepada Allah Sang Khalik. 


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.Al-Hasyr (59):18).


Dan taukah kalian bahwa bermuhasabah diri sendiri itu sangat bayak membawakan manfaat untuk kita, manfaat apa sajakah, Berikut ini 

  1. Dengan bermuhasabah diri, maka diri setiap muslim akan bisa mengetahui akan aib serta kekurangan dirinya sendiri. Baik itu dalam hal amalan ibadah, kegiatan yang memberikan manfaat untuk banyak manusia. Sehingga dengan demikian akan bisa memperbaiki diri apa-apa yang dirasa kurang pada dirinya.
  2. Dalam hal ibadah, kita akan semakin tahu akan hak kewajiban kita sebagai seorang hambaNya dan terus memperbaiki diri dan mengetahui hakekat ibadah bahwasannya manfaat hikmah ibadah adalah demi kepentingan diri kita sendiri. Bukan demi kepentingan Allah Ta’ala. Karena kita lah manusia yang lemah dan penuh dosa yang memerlukan akan pengampunan dosa-dosa kita yang banyak.
  3. Mengetahui akan segala sesuatu baik itu kecil maupun besar atas apa yang kita lakukan di dunia ini, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akherat. Inilah salah satu hikmah muhasabah dalam diri setiap manusia.
  4. Membenci hawa nafsu dan mewaspadainya. Dan senantiasa melaksanakan amal ibadah serta ketaatan dan menjauhi segala hal yang berbau kemaksiatan, agar menjadi ringan hisab di hari akhirat kelak.

Demikianlah penjelasan di atas semoga dari penjelasan ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembacanya, dan semoga kita semua dapat bermuhasabah diri sendiri, agar kelak Allah merihai kita dan membimbing kita untuk menggapai JannahNya. Amin

sumber: newsfarras


  • 0

Sebuah Keimanan yang paling Rasulluallah kagumi

Bismilahhirrohmannirrohim


Para sahabat yang di cintai Allah, Kali ini kami akan berbagi mengenai sebuah kisah yang penuh dengan hikmah dan ispiratis untuk kita semua, yaitu Kisah dari Zman Rasullallah saw. kisa apakah itu, Mari kita simak kisahnya. 


Alkisah, suatu ketika Rasulullah saw bermain tebak-tebakan dengan para sahabat. 


Bertanya Rasulullah,  “Tahukah kalian, mereka-mereka yang keimanannya membuatku kagum?”.

 “Aku tahu ya Rasulullah”, seru salah seorang sahabat. 

“Mereka yang engkau maksud itu tentulah para malaikat“. 

“Mengapa engkau berpikir demikian?”, tanya Rasulullah kembali. 

“Karena para malaikat selalu mematuhi semua perintah Allah.


Mereka tidak sekalipun pernah melanggar aturan Allah”, jawab sahabat. 

“Tapi para malaikat memang ditakdirkan untuk selalu mematuhi perintah Allah. 

Mereka tidak diberi kelengkapan hawa nafsu seperti layaknya kita. 

Dan tempat mereka dekat dengan Allah. Wajar jika mereka selalu beriman. Keimanan para malaikat tersebut, sama sekali tidak membuatku kagum”, bantah Rasulullah. 


Para sahabat termangu-mangu dengan jawaban Rasulullah tersebut. Mereka terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa kiranya yang dikehendaki oleh Rasulullah. Tiba-tiba, salah seorang sahabat berseru, “Aku tahu ya Rasulullah, yang Rasulullah maksudkan tentu para nabi dan rasul utusan Allah.


Mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka selalu mematuhi apapun yang Allah perintahkan, apapun resikonya”. Rasulullah tersenyum, “Betul mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt. 

Mereka menerima wahyu dan mendapatkan mukzizat. Wajar jika karena semua itu, mereka beriman kepada Allah”. “Keimanan mereka sama sekali tidak membuat aku kagum”, bantah Rasulullah sekali lagi. Kembali para sahabat ternganga dengan bantahan Rasulullah tadi. Mereka saling berpandangan lalu kembali tenggelam memikirkan jawaban pertanyaan Rasulullah. “Ah…, sekarang saya tahu ya Rasulullah”, kata salah seorang sahabat dengan muka berseri-seri. 


“Mereka yang Rasulullah maksudkan itu tentulah kami, para sahabatmu. Kami manusia biasa, kami juga tidak menerima wahyu, dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat apapun. Meskipun demikian, kami berjanji untuk selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”, jelas sahabat tersebut dengan senyum mengembang diwajahnya. Kembali Rasulullah tersenyum mendengar jawaban salah seorang sahabat tadi, “Betul kalian memang tidak menerima wahyu dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat, namun kalian kan melihat dengan mata kepala sendiri, mukzizat yang aku terima. Kalian juga mendengar dengan telinga kalian sendiri ketika wahyu Allah aku bacakan. Wajar jika karena itu, kalian beriman kepada Allah. Keimanan kalian, sama sekali tidak membuatku kagum”. Kali ini para sahabat betul-betul terhenyak dengan bantahan Rasulullah barusan. 


Dengan perasaan putus asa karena sudah kehabisan akal, akhirnya mereka menyerah, “Kiranya hanya Allah dan rasul-Nya saja yang tahu jawaban pertanyaan Rasulullah tadi”, kata salah seorang sahabat. “Sesungguhnya, mereka yang keimanannya membuatku kagum adalah mereka-mereka yang tidak sekalipun pernah berjumpa denganku. Mereka sama sekali tidak pernah melihat diriku dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka juga tidak sekalipun pernah mendengar suaraku. Dan yang lebih hebat lagi, mereka berabad-abad jaraknya dariku. Tapi kecintaan mereka kepadaku, tak sekalipun perlu aku ragukan”, jawab Rasulullah. “Mereka itulah, yang keimanannya sungguh-sungguh membuat aku kagum”, sambung Rasulullah menegaskan.


Sumber : kisahyangpenuhikmah


  • 0

Menumbuhkan Rasa Takut kita kepada Allah SWT

Bismilahhirrohmannirrohim


Sesungguhnya, orang-orang yang takut kepada Tuhan-Nya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Mulk: 12)

Rasa takut kepada Allah muncul dari pemahaman dan penghargaan akan kebesaran dan kekuatan-Nya. Seseorang yang memahami kebesaran kuasa Allah dan kekuatan abadi-Nya, akan mengetahui bahwa ia bisa saja menghadapi murka dan hukuman-Nya sebagai bagian keadilan Ilahi jika ia tidak mampu mengarahkan hidupnya sesuai dengan keinginan Allah.

Kesengsaraan yang disiapkan oleh Allah dalam kehidupan duniawi dan akhirat untuk mereka yang menafikan-Nya, dirinci di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Semua manusia diperingatkan untuk mewaspadai hal itu. Setiap mukmin sejati selalu menyadari akan hal ini.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, ”Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah dengan sebenar-benar rasa takut hanyalah para ulama yang memiliki pengetahuan tentang Allah (ma’rifatullah). Hal ini disebabkan semakin bertambah pengenalan seseorang terhadap Dzat Yang Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Berilmu, Yang memiliki sifat yang Maha Sempurna disertai Asma’ul Husna, maka akan semakin bertambah dan sempurna pengetahuan seseorang kepada Rabbnya. Dengan demikian, ketakutannya kepada Allah akan semakin bertambah dan menguat. (Tafsir al-Qur’an al-`Azhim, 3/697).


Orang seperti itu memiliki rasa takut yang mendalam kepada Allah. Tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk beribadah kepada Allah. Ia tidak akan pernah lupa bahwa Allah mendengar dan melihatnya, selalu dan di mana pun, baik sendiri maupun saat dikelilingi oleh orang banyak. Nah kali kami akan berbagi bagaimana cara menumbuhkan Rasa Takut kita kepada Allah SWT . Mari simak caranya :

  • Menempuh jalan menuntut ilmu syar’i yang bersumber dari al-Quran al-Karim dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih.

Syaikh `Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, ” Semakin seseorang berilmu tentang Allah Ta`ala, semakin besar juga rasa takutnya kepada Allah. Rasa takutnya kepada Allah tersebut membuatnya meninggalkan perbuatan maksiat dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti. Ayat ini sebagai dalil tentang keutamaan ilmu, karena ilmu akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah. Orang-orang yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang mendapat kemuliaan-Nya, seperti firman Allah Ta`ala (artinya)Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Hal itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.’ (QS. al-Bayyinah: 8) (Taisir al-Karimir ar-Rahman, hal 656)

  • Mengingat bahwa adzab Allah sangatlah pedih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya, “Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan siksanya ialah orang yang mengenakan dua sandal dari neraka lalu mendidih otaknya karena sangat mencekam panas dua sandalnya.” (HR. Muslim).

Pedihnya adzab Allah, sampai-sampai disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa setan berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Dan Allah sangat keras siksa-Nya” (QS. Al Anfal: 48).

Allah Ta`ala berfirman (artinya): “hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur: 63).

Dan ini juga ada sebuah kisah yang harus kita ketahui mengenai Rasa Takut, yaitu kemasyhuran Ibnul Mubarak. 

Dari Al-Qaasim bin Muhammad rahimahullah ia menceritakan: ”Suatu ketika kami pernah melakukan suatu perjalanan bersama Ibnul Mubarak. Seringkali terlintas dalam benakku (tentang kemasyhuran Ibnul Mubarak) hingga aku berkata pada diriku sendiri : ’Apakah gerangan yang membuat laki-laki ini lebih utama dibandingkan kami sehingga dia begitu terkenal di khalayak ramai? Jika dia shalat, kami pun melakukan shalat. Jika dia berpuasa, kami pun berpuasa. Jika ia berjihad, kami pun berjihad.”

Al-Qaasim rahimahullah pun melanjutkan: “Dalam suatu perjalanan kami kemudian, ketika kami sampai di negeri Syam pada suatu malam. Kami sedang makan malam di sebuah rumah. Tiba-tiba lampu padam. Maka seorang diantara kami pun bangkit untuk mengambil lampu. [keluar untuk beberapa saat untuk menyalakan lampu, kemudian datang membawa lampu yang telah menyala]. (Setelah terang) aku melihat wajah dan jenggot Ibnul Mubarak telah basah karena air mata. Maka aku berujar pada diriku sendiri , “Dengan rasa takut inilah laki-laki ini lebih utama dibandingkan kami. Mungkin tadi ketika lampu padam, dan keadaan menjadi gelap, beliau teringat akan hari kiamat.” (Ayna Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18-19).

Semoga kita senantiasa menjadi seorang mukmin tidak pernah merasa bahwa iman dan rasa takutnya kepada Allah telah cukup. Ia mencoba meningkatkan rasa takut dalam hatinya dan kekuatan untuk menahan diri hingga akhir hidupnya.

Amin amin Ya Allah Ya Robbal Alamin


  • 0

Membangun Silaturahmi yang Indah

Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim” (Muttafaqun ‘alaihi)

Silaturahmi (shilah ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah berasal dari washala-yashilu-wasl(an)wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang); ia digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena orang-orang saling berkasih sayang, karena hubungan rahim atau kekerabatan itu. Di dalam al-Quran, kata al-arhâm terdapat dalam tujuh ayat, semuanya bermakna rahim atau kerabat.
Dengan demikian, secara bahasa shilah ar-rahim (silaturahmi) artinya adalah hubungan kekerabatan dan Arti silaturahim yang memiliki arti menyambungkan rasa kasih sayang.
Allah SWT berfirman :
“Dan sesungguhnya pada kehidupan hewan itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu”.
(QS.An-Nahl (16) : 66).
Dalam hal bersilaturrahmi misalnya kita bisa mencontoh semut dan lebah. Semut binatang kecil pemakan gula tapi tidak pernah sakit gula (diabetes). Resepnya, pertama karena semut senang bersilaturrahmi. Tengoklah setiap berpapasan antara sesama semut sejenis mereka saling “bersalaman” yang terlihat dari kedua kepalanya saling ketemu. Kedua, bila seekor semut menemukan rezeki, mereka tidak mau makan sendiri tapi memberi tahu semut-semut lainnya.
Setelah berkumpul, baru makanan itu mereka bawa kesatu tempat dan dinikmati bersama.
Menjalin hubungan baik dengan sesama manusia merupakan salah satu tanda ketakwaan seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Allah bahkan menjanjikan keberkahan hidup bagi hamba-Nya yang selalu menjaga tali silaturahmi dengan sesamanya, khususnya dengan orang tua dan kerabat.
Dan taukah kalian Manfaat dari kita Berislaturahmi, ini ada tiga manfaat dari silaturahmi :
Silaturahmi Dapat Menjadi Kunci Masuk Surga
Allah Swt. menjanjikan pahala dan keberkahan bagi setiap hamba-Nya yang senantiasa menjaga tali silaturahmi. Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Balasan bagi siapa saja yang mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba adalah ia didekatkan kepada surga dan dijauhkan dari panasnya api neraka.
Silaturahmi tidak hanya memberikan keberkahan dan kebahagiaan bagi pelakunya. Para kerabat dan keluarga yang dikunjungi pun tidak luput dari rasa bahagia ketika mendapati bahwa keluarganya masih peduli dan memegang teguh rasa persaudaraan.
Silaturahmi Mampu Memperluas Rezeki Seseorang
Silaturahmi mempermudah kita untuk membantu kerabat atau anggota keluarga jika suatu saat ada salah satu dari mereka yang membutuhkan bantuan. Membantu keluarga yang sedang kesulitan dapat kita anggap sebagai sedekah. Allah Swt. pun menjanjikan kemudahan dan pahala bagi siapa saja yang mampu memperpanjang tali silaturahmi dan memudahkan urusan saudaranya. Janji Allah tersebut tertuang dalam sabda r yang diriwayatkan Abu Hurairah: “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya  dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung tali silaturahmi.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
Silaturahmi Mampu Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt.
Menyambung tali silaturahmi merupakan salah satu bentuk kecintaan dan ketakwaan seorang hamba. Hal tersebut dibuktikan dengan sabda Rasulullah: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar-Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga hak-Nya. Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus darinya.” (Hadis Riwayat Ahmad).
Dari hadis tersebut jelas bahwa Allah Swt. memerintahkan setiap hamba-Nya agar selalu menjaga keutuhan antar sesamanya. Allah juga menjanjikan pahala bagi siapa saja yang mampu menjaganya dan Dia juga tidak segan memberikan peringatan bagi mereka yang memutus keutuhan tali silaturahmi, Silaturahmi sebagai tanda keimanan juga diungkapkan melalui sabda Rasulullah: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya

  • 0

Kisah Yahudza dan Quthruz yang harus kalian ambil Hikmahnya

Category : Uncategorized

Bismilahhirrohmanirrohim


Para sahabatku yang senantiasa di Cintai Allah, Kali ini saya akan berbagi sebuah kisah di dalam Al-Quran yang sangat menarik dan penuh dengan Hikmah, Kisah dua orang Pemuda yang ada di dalam Surah Al-Kahfi ayat 32-44. Sebelum kita menyimak ceritanya mari kita membahas terlebih dahulu mengenai apa arti dari sebuah kisah ,? 


Kisah adalah peristiwa masa lampau yang direkonstruksi atau dkisahkan/diceritakan kembali dengan berdasar pada ingatan, kesan juga penafsiran seseorang. Setelah kita mengetahui sedikit penjelasan yang penting mengenai Kisah , Kisah yang ada di dalam Surah Al-Kahfi ayat 32-44 ini menjadi penting untuk dihayati di era dimana materialisme dan atheisme, Mengapa ? karena 2 sikap hidup yang dijalani oleh salah satu tokohnya tersebar merata di hampir setiap celah bumi Allah. Mari kita Simak Kisah dua pemuda yang ada di dalam Surah Al-Kahfi ayat 32-44 ini.

Imam al-Baghawi menyebutkan bahwa kedua lelaki yang kisahnya dijadikan perumpamaan tersebut adalah dua orang yang bersaudara di kalangan Bani Israil. Salah seorang di antara mereka adalah lelaki yang beriman bernama Yahudza sedangkan saudaranya yang kafir bernama Quthruz.  Keduanya mewarisi harta dari  ayah mereka sebanyak 8000 dirham, warisan tersbut mereka bagi rata masing-masing orang mendapatkan 4000 dirham. Quthruz si kafir menggunakan uangnya tersebut untuk membangun rumah dan membeli tanah pertanian yang luas serta menikahi wanita cantik. 


Yahudza yang beriman kepada Allah menginfakan hartanya dijalan Allah swt dan berdoa agar dia dibrikan taman (kebun), tempat tinggal serta istri di surga. Di dalam doanya Yahudza berkata. “Ya Allah sesungguhnya si fulan (maksudnya saudarany) telah membeli tanah seharga seribu dinar. Aku juga hendak membeli tanah di surga-Mu seharga seribu dinar. Ya Allah dia telah membeli sebuah rumah seharga 1000 dirham, aku juga hendak membeli sebuah rumah di surga-Mu dengan sedekah seribu dirham. Ya Allah dia telah menikahi seorang perempuan dengan uang 1000 dirham, maka nikahkanlah aku dengan bidadari di surga-Mu. Ya Allah dia telah membeli kesenangan-kesenangan dengan uang 1000 dinar, aku juga hendak meminta kesenangan di surga-Mu.” 


Pada suatu ketika Yahudza membutuhkan uang, ia pun mengunjungi Qurthuz untuk meminjam uang kepadanya. Awalnya Qurthuz tidak mengenali saudaranya tersebut sehingga Yahudza harus memperkenalkan dirinya. Setelah mengetahui bahwa Yahudza yang beriman telah kehabisan hartanya karena memeblanjakan di jalan Allah dan hendak meminta bantuan kepadanya, Qurthuz pun menjadi sombong dan mengatakan kalimat angkuhnya yang diabadikan Al-Qur’an ; “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”  Ketika masih dikuasai oleh perasaan sombong, bangga, dan jumawa dia memasuki kebun-kebunnya yang subur dan merasa takjub terhadapa kekayaannya sendiri.  Qurthuz menjadi semakin sombong karena hartanya. ia pun mulai ingkar terhadap kebaradaan hari kiamat dan bahkan Allah swt, serta membuat olok-olok terhadap akhirat bahwa jika ada akhirat, Allah akan tetap memberikannya kebun dan taman yang lebih banyak ;

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا [١٨:٣٥]وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا [١٨:٣٦]

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (35) dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”.(36) (QS. al-Kahfi : 35-38). 


Yahudza yang mendengarkan ucapan-ucapan buruk saudaranyua kemudian menasehatinya, seperti tercantum di dalam ayat-ayat berikutnya ;

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا [١٨:٣٧]لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا [١٨:٣٨]

Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya — sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (37). Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.(38). (QS. al-Kahfi : 38).


Selain menasehati Qurthuz, Yahudza juga mengajarkan kepadanya saudaranya untuk berdoa dan bersyukur kepada Allah swt ketika melihat kebun dan kekayannya yang melimpah setiap kali ia memasuki kedua kebunnya yang subur ;

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, (QS. al-Kahfi : 39).


Akan tetapi Qurthuz tidak mau mendengarkan perkataan saudaranya, dia tetap kafir, ingkar nikmat, dan bersikap sombong. Akhirnya Yahudza memberinya peringatan yang cukup keras kepadanya bahwa Allah akan memberinya kebun yang lebih baik di akhirat  dan membinasakan kebun milik Qurthuz ;

فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا]٤٠] أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا [٤١]

Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin (40). atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi” (41). (QS. al-Kahfi : 40-41).


Di dalam ucapan Yahudza tersebut terdapat doa agar Allah membinasakan saja kebun saudaranya yang telah membuatnya menjadi kufur. Yahudza berharap jika kebunnya hancur dan tidak bisa diselamatkan lagi, Qurthuz akan menjadi beriman kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.  Allah swt lalu mengabulkan doa Yahudza dan membinasakan kebun saudaranya yang kufur nikmat. Qurthuz dan para pengawalnya tidak bisa berbut apa-apa untuk menyelamatkan harta serta kebunnya dia hanya bisa menyesali kekufuran yang telah ia lakukan;

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا ]٤٢] وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ]٤٣]

Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”(42). Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.(43). (QS. al-Kahfi : 42-43).


Sumber Cerita : http://ayubmenulis.blogspot.co.id/


Demikianlah mengenai kisah Yahudza dan Qurthuz kita dapat mengambil hikmahnya yaitu Kita harus berhati-hati terhadap sifat sombong dan arogansi karena kekayaan. Kedua sifat tersebut dapat menjerumuskan kedalam kemusyrikan dan kekafiran. Dan Jika kita mendapatkan nikmat dari Allah swt berupa harta yang melimpah, keluarga yang bahagia dan lainnya, maka yang harus dilakukan adalah senantiasa bersyukur dan mengingat bahwa Dia lah yang telah memberikan semua nikmat itu.


  • 0

Pentingnya Menjaga Sebuah Amanah

Bismilahhirrohmannirrohim


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui,” (Q.S al-Anfaal : 27).Ayat ini menegaskan syariat luhur bernama amanah. Berasal dari kata amuna, ya’munu, amanatan, amanah berarti jujur dan dapat dipercaya. Berkembang menjadi kata aminah yang berarti aman tenteram. Lalu muncul derivasi lain, ‘aamanah’, artinya ‘saling percaya’. 


Para pembaca yang di rahmati Allah, bahwasannya Amanah adalah suatu siafat yang mulia . Allah Subhanauhu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada setiap muslim untuk menunaikan amanah. Manusia diperintah Allah untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya (Q.S. 4 : 58), hal ini berkaitan dengan tatanan berinteraksi sosial (muamalah) atau hablun min al-nas. Sifat dan sikap amanah harus menjadi kepribadian atau sikap mental setiap individu dalam komunitas masyarakat agar tercipta harmonisasi hubungan dalam setiap gerak langkah kehidupan.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menandakan orang-orang munafik yakni apabila berkata, dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkari dan apabila diberi amanah dia khianat. Sedang Allah memberikan adzab kepada orang-orang munafik seperti yang tertulis dalam Qur’an surat Al-Ahzab ayat 73 yang artinya, “Sehingga Allah mengazdab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan…”

Dan ada suatu kisah yang diceritakan Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu, ketika perang Khaibar datanglah sekelompok orang dari sahabat Nabi sambil berteriak, “Fulan telah (mati) syahid, Fulan telah syahid, hingga mereka melewati seseorang lalu berkata, “Fulan telah syahid”. Nabi pun lalu menyela, seraya bersabda, “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya aku melihat orang itu ada di neraka disebabkan sebuah baju jubah yang dikorupsinya,” (HR Muslim, no. 323)

Di antara indikator seseorang yang sukses dalam hidup adalah ketika dia mampu menjaga harkat dan martabat dirinya. Dan itu artinya ia cerdas mengelola amanah. Ia jujur dengan kata hatinya. Apa yang ada di hati ia ucapkan. Dan apa yang diucapkan, sudah ia pikirkan dan istiqamah untuk diamalkan. “Jika engkau miliki empat hal, engkau tidak akan rugi dalam urusan dunia: menjaga amanah, jujur dalam berkata, berakhlak baik, dan menjaga harga diri dalam (usaha, bekerja) mencari makan.” (HR Ahmad).


Menjaga amanah memang berat, bahkan mahaberat. Makhluk langit, bumi, dan gunung pernah ditawari untuk mengemban amanah-Nya, tapi semua menolaknya. Semua makhluk Allah yang notabene jauh lebih besar dari makhluk manusia ini merasa berat dan sangat khawatir kalau nanti tidak akan kuat mengembannya. (QS al-Ahzab [33]: 72).Lalu, bagaimana  sahabat agar kita bisa menjaga amanah? Jawabannya adalah Laa mulkiyyah Tugas hidup ini mengakui semua mililk-Nya, lalu menggunakannya di jalan Allah dengan rasa syukur dan rendah hati (QS Ibrahim [14]: 7).


  • 0

Cara Rasulallah untuk Hidup Sehat

Category : Uncategorized

Semua orang berfikir Sehat adalah sesuatu yang mahal,Rasulullah SAW diciptakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala sebagai contoh dan teladan bagi umat manusia seluruh alam, Dan taukah kalian Salah satu ajaran dari Rasulullah SAW adalah pola hidup yang sehat sebagimana sabdanya :Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab 33:21). Mari kita simak sebagaimana Pola hidup Rasulallah, Agar kian kita terhindar dari berbagai Penyakit. Berikut yang Rasulaallah ajarkan :

 


1. Makan Makanan Halal dan Baik
Selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut rasulullah, kecuali makanan yang halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi. 

” Makanlah minyak zaitun dan berminyaklah dengannya. Sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Ahmad az Zubair, dan diriwayatkan pula oleh Abu Nu’aim, keduanya menerima dari Sufyan, dari ` Abdullah bin `Isa, dari seorang laki-laki ahli syam yang bernama Atha’, yang bersumber dari Abi Usaid r.a.)”


Pada pagi hari, Rasulullah SAW sarapan dengan segelas air yang dicampur oleh sesendok madu asli. Selain dapat menjaga daya tahan tubuh, madu juga dapat menjadi obat bagi berbagai macam penyakit.


2. Tidak Makan Berlebihan
Rasulullah mencotohkan dengan makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang.Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). 


3. Rajin dalam Bepuasa
Puasa wajib/sunnah yang ditekankan adalah puasa sehat tanpa mendzolimi diri sendiri. Dianjurkan sahur dan menyegerakan berbuka dengan air putih dan kurma.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Dan Tahukan kalian bahwasannya Puasa dapat menyembuhkan berbagai penyakit, Dalam dunia kedokteran, puasa juga dianggap sebagai senjata paling ampuh untuk menyembuhkan penyakit,

Contohnya Prenyakit :

  1. Tekanan darah tinggi
  2. Diabetes
  3. Asma dan saluran pernapasan
  4. Jantung dan pengerasan arteri
  5. Penyakit hati
  6. Penyakit Kulit
  7. Penyakit paru-paru
  8. Mencegah kanker, dll

4. Jangan Makan dengan tergesa” dan Tidak meniup makanan/minuman panas
Makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang. Cara makan seperti ini akan menghindarkan seseorang dari tersedak ataupun tergigit. Makanan bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan lebih ringan. Dari segi medis, makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Serta, tidak meniup makanan/minuman panas. Dalam Hadits, Ibnu Abbas meriwayatkan “Bahwasanya Rasulullah SAW melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani). Secara teori ilmiah, hadits Rasulullah tersebut dapat dijelaskan bahwa apabila kita menghembuskan nafas pada minuman, kita akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2), yang apabila bercampur dengan air (H2O), akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, sehingga menyebabkan minuman itu menjadi acidic (bersifat asam). Bila kebiasaan ini berlangsung dalam waktu lama akan dapat merusak kinerja ginjal serta dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

5. Membersihkan Gigi
Rasulullah SAW sangat Memperhatikan kesehatan gigi dan membersihkannya dengan menggunakan siwak (akar dari pohon salvadora persica)). Waktu yang disarankan adlah sebelum sholat, sebelum tidur dan ketika bangun tidur.

6. Tidur lebih awal dan Bangun lebih awal
Rasulullah biasa tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Kemudian beliau bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan.

Cara tidurnya pun penuh makna. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan bisa berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional. Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke liver, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung.

7. Melakukan Bekam 

Rasulullah SAW bersabda:
“Kesembuhan dapat diperoleh dengan tiga cara: pertama dengan meminum madu (dengan obat herbal), kedua dengan berbekam/hijamah, dan ketiga dengan (terapi) besi panas. Dan aku tidak menganjurkan umatku untuk melakukan pengobatan dengan besi panas.” (HR. Bukhori)

Tentunya berbekam dengan rutin dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta menghindarkan tubuh dari berbagai penyakit. Ternyata hidup sehat tidaklah sulit, anda tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk berobat atau membeli vitamin. Cukup ikuti sunnah Rasulullah SAW maka insya Allah hidup anda akan sehat jasmani dan rohani.


  • 0

Waqaf Hijab untuk Majelis Taklim yang berada di pelosok Kota Bogor

Bismilahhirrohmannirrohim

Para sahabat rahimakumullah, Hari ini saya akan berbagi mengenai Beberapa Dokumentasi dari Kegiatan yang YMA lakukan yaitu Wakaf Hijab , Wakaf Hijab yang kami persembahkan para jamaah majelis taklim Riyadul Huda pimpinan kyai sepuh Desa Sukamulya kec. Sukamakmur Kab. Bogor.

Mandiri Amanah memberikan semangat bagi para jamaah majelis taklim Riyadul Huda pimpinan kyai sepuh Desa Sukamulya kec. Sukamakmur Kab. Bogor Kyai Mamat di daerah ke tinggian 950 Meter DPL, Sebanyak 140 ibu ibu yang terdaftar sebagai jamaah pagi ini yang hadir mengikuti pengajian rutin ba’da Subuh sepertinya hanya setengah dari jumlah keseluruhan yang ada mungkin di pengaruhi kondisi cuaca yang memang dari kemarin tak henti henti nya sebagian daerah Bogor di guyur rintik hujan juga kaum ibu ibu di desa sukamulya mempuyai keyakinan saat Haid maka tidak boleh ikut ke dalam majelis taklim meski hanya sekedar mendengarkan di serambi pengajian.

Alhamdulilah ada 140 kerudung Baru untuk di bagikan ke jamaah dengan Gratis untuk yang hadir hari ini di dalam pengajian , Rasa Syukur yang selalu kami panjatkan kepada Allah SWT, dengan izin dan Ridhanya menghantarkan kami dari serangkaian demi serangkaian kegiatan yang kami lakukan bersama-sama ini mengenai Wakaf Hijab berjalan dengan lancar dan penuh Hikmah. Dan kami para Tim bersyukur menjalani tugas penyebaran Wakaf Hijab yang lagi dan lagi alhamdulilah memberikan Manfaat bagi para penerima Wakaf Hiijab ini, Serta kami bersyukur dapat secara langsung meyaksikan bagaimana kekhusyukan ibu ibu jamaah yang hadir dalam majelis tolabul ilmu dengan penuh semangatnya meski jalanan mereka melewati persawahan dan tegal.

Demikianlah mengenai Sedikit Rangkaian serta Dokumentasi dari Yayasan Mandiri Amanah yang kami bagikan. Dan Semoga semua yang sudah memberikan donasinya mendapatkan pahala yang besar dari setiap helai benang Hijab yang di pakai untuk tolabul Ilmi Jamaah Pengajian Riyadul Huda. Amin Ya Robbal Alamin


  • 0

Sebuah Perbuatan yang baik dapat menghapuskan Dosa

Category : Uncategorized

Bismilahhirrohmannirrohim

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (Qs. Huud: 114)

Perbuatan baik (‘amilunshalihan), merupakan konsep-konsep kunci di dalam Al-Qur’an. Dalam bahasa Arab, kata kebaikan terdiri dari arti baik dan bermanfaat. Dalam istilah Al-Qur’an, segala hal yang diniatkan untuk mencari keridhaan Allah adalah perbuatan baik. Keselamatan seseorang tidak semata bergantung kepada iman, tanda-tanda keimanan yang ikhlas dan perbuatan baik juga menyelamatkan jiwa. Syahadat yang tidak disertai menjalankan perintah agama, tidak akan menyelamatkan seseorang.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ لاَ يُرِيدُونَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ ، إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

Tidaklah suatu kaum berkumpul mengingat Allah,  tidak menginginkan kecuali Wajah-Nya, kecuali akan ada penyeru dari langit:”Bangkitlah dalam keadaan diampuni, keburukan-keburukan kalian telahdiganti dengan kebaikan (H.R Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh  al-Albany)

Atha’ bin Abi Robaah –salah seorang tabi’i (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas,  Ibnu Umar, Abu Hurairah) berkata: Barangsiapa yang duduk di (satu) majelis dzikir, Allah akan hapuskan baginya 10 majelis batil (yang pernah diikutinya). Jika majelis dzikir itu dilakukan fii sabiilillah, bisa menghapus 700 majelis kebatilan (yang pernah diikutinya). Abu Hazzaan berkata : Aku bertanya kepada Atha’ bin Abi Robaah: Apa yang dimaksud dengan majelis dzikir? Atho’ menjelaskan: (majelis dzikir) adalah majelis (yang menjelaskan) halal dan haram, tentang bagaimana sholat, berpuasa, menikah, thalak, dan jual beli (Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim (3/313), al-Bidayah wanNihaayah karya Ibnu Katsir(9/336)).

Namun, yang bisa dihapus dengan perbuatan-perbuatan baik (ibadah) itu adalah untuk dosa-dosa kecil saja, sedangkan dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat nashuha. Syarat taubat nashuha adalah bertaubat dengan ikhlas karena Allah semata, menyesal secara sungguh atas perbuatannya, meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya, dan jika terkait dengan hak hamba Allah yang lain, ia harus meminta maaf (minta dihalalkan).

Demikianlah Saudaraku, perlu diingat bahwa dosa yang kita lakukan akan berdampat negatif terhadap keimanan, kejiwaan, rezeki, dan seluruh keadaan kita. Sungguh tiada suatu bala’ (musibah) turun menimpa manusia kecuali karena dosa. Petaka tidaklah dicabut kecuali dengan taubat dan amal shalih. Mari kita banyak-banyak mengaca diri dengan memperbaiki kondisi. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengubah keadaan menjadi baik dan diberkahi.


  • 0

Amalan-amalan dan Pahala yang tidak akan berhenti Mengalir setelah Kematian

Bismilahhirrohmanniroohim

“Sesungguhnya Kami yang menghidupkan orang mati, Kami catat semua yang telah mereka lakukan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan semuanya kami kumpulkan dalam kitab (catatan amal) yang nyata.” (QS. Yasin: 12)

Saat manusia telah meninggal dunia, segala amal ibadahnya di dunia telah terputus. Manusia telah terbebas dari segala urusan duniawi. Namun, bukan berarti manusia yang telah meninggal tersebut telah terbebas dari segala pertanggung jawabannya. Mereka kelak tetap harus mempertanggung jawabkan segala perbuatan selama hidup di dunia di hadapan sang khaliq, Allah SWT.

Berikut ini merupakan Amalan-amalana yang tidak akan terputus Pahalanya yang Terus Mengalir Setelah Kematian :

  1. Jejak kaki mereka ketika melangkah menuju ketaatan atau maksiat

Ini merupakan pendapat Mujahid dan Qatadah sebagaimana yang di riwayatkan oleh Ibnu Abi Najih.

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadis dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada Bani Salamah ingin berpindah membuat perkampungan yang dekat dengan masjid nabawi. Karena mereka terlalu jauh jika harus berangkat shalat jamaah setiap hari ke masjid nabawi. Ketika informasi ini sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

“ Wahai Bani Salamah, perjalanan dari rumah kalian ke masjid akan dicatat jejak-jejak kali kalian. (HR. Muslim 1551, dan Ahmad 14940)”

  1. Ilmu yang Bermanfaat

Ilmu yang bermanfaat adalah satu dari tiga amalan yang pahalanya tidak akan terputus. Oleh sebab itu, Nabi Muhammad sampai menerangkan bahwa sebaiknya umatnya menuntut ilmu sampai ke negeri China, di mana maksudnya adalah umat muslim hendaknya menuntut ilmu yang setinggi tingginya, supaya dapat diamalkan dan ditularkan kepada umat yang lain. Ilmu Allah yang disebar di dunia ini tidak akan pernah habis walaupun diambil sampai kapan pun.

  1. Menghadiahkan mushaf al-Quran

Menghadiahkan al-Quran berarti memberi fasilitas orang lain untuk bisa mendapatkan pahala sebanyak huruf yang dibaca dalam al-Quran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang membaca satu huruf dalam al-Quran maka dia mendapatkan satu pahala. Dan satu pahala dilipatkan 10 kali. (HR. Turmudzi 3158).”

Terutama ketika hadiah al-Quran itu tepat sasaran. Benar-benar diberikan kepada mereka yang rajin membaca al-Quran atau mereka yang menghafalkan al-Quran.

  1. Membangun masjid.

Masjid adalah tempat yang paling dicintai Allah.

Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim 1560)

Karena itu, orang yang membangun masjid, dia akan memperoleh pahala dari setiap aktivitas kebaikan yang dilakukan di masjid tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena mengharap wajah Allah, maka Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” (Muttafaqun ‘alaihi)

  1. Shodaqoh Jariyah 

Shodaqoh jariyah merupakan bagian yang sangat penting dalam amalan yang tidak akan pernah terputus. Shodaqoh jariyah yang dilakukan secara tepat, manfaatnya akan tetap kembali kepada pelakunya walaupun ia sudah meninggal dunia. Manfaat yang ditimbulkan dari shodaqoh tersebut akan memberikan pahala yang tak akan terputus

  1. Anak Soleh dan Solehah 

Anak soleh dan solehah pun juga akan memberikan pahala yang tidak akan terputus, dengan doa doa yang mereka panjatkan kepada kedua orang tua yang telah meninggal. Maka dari itu, orang tua diharapkan mendidik putra putri mereka ingga kelak menjadi anak anak yang soleh dan solehah yang dapat mendoakan orang tua.

Demikianlah mengenai Penjelasan Amalan-amalana yang tidak akan terputus Pahalanya yang Terus Mengalir Setelah Kematian , Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembacanya . Amin Yra

Refrensi : Konsultasisyariah, Beritamuslim