Kisah Yahudza dan Quthruz yang harus kalian ambil Hikmahnya

  • 0

Kisah Yahudza dan Quthruz yang harus kalian ambil Hikmahnya

Category : Uncategorized

Bismilahhirrohmanirrohim


Para sahabatku yang senantiasa di Cintai Allah, Kali ini saya akan berbagi sebuah kisah di dalam Al-Quran yang sangat menarik dan penuh dengan Hikmah, Kisah dua orang Pemuda yang ada di dalam Surah Al-Kahfi ayat 32-44. Sebelum kita menyimak ceritanya mari kita membahas terlebih dahulu mengenai apa arti dari sebuah kisah ,? 


Kisah adalah peristiwa masa lampau yang direkonstruksi atau dkisahkan/diceritakan kembali dengan berdasar pada ingatan, kesan juga penafsiran seseorang. Setelah kita mengetahui sedikit penjelasan yang penting mengenai Kisah , Kisah yang ada di dalam Surah Al-Kahfi ayat 32-44 ini menjadi penting untuk dihayati di era dimana materialisme dan atheisme, Mengapa ? karena 2 sikap hidup yang dijalani oleh salah satu tokohnya tersebar merata di hampir setiap celah bumi Allah. Mari kita Simak Kisah dua pemuda yang ada di dalam Surah Al-Kahfi ayat 32-44 ini.

Imam al-Baghawi menyebutkan bahwa kedua lelaki yang kisahnya dijadikan perumpamaan tersebut adalah dua orang yang bersaudara di kalangan Bani Israil. Salah seorang di antara mereka adalah lelaki yang beriman bernama Yahudza sedangkan saudaranya yang kafir bernama Quthruz.  Keduanya mewarisi harta dari  ayah mereka sebanyak 8000 dirham, warisan tersbut mereka bagi rata masing-masing orang mendapatkan 4000 dirham. Quthruz si kafir menggunakan uangnya tersebut untuk membangun rumah dan membeli tanah pertanian yang luas serta menikahi wanita cantik. 


Yahudza yang beriman kepada Allah menginfakan hartanya dijalan Allah swt dan berdoa agar dia dibrikan taman (kebun), tempat tinggal serta istri di surga. Di dalam doanya Yahudza berkata. “Ya Allah sesungguhnya si fulan (maksudnya saudarany) telah membeli tanah seharga seribu dinar. Aku juga hendak membeli tanah di surga-Mu seharga seribu dinar. Ya Allah dia telah membeli sebuah rumah seharga 1000 dirham, aku juga hendak membeli sebuah rumah di surga-Mu dengan sedekah seribu dirham. Ya Allah dia telah menikahi seorang perempuan dengan uang 1000 dirham, maka nikahkanlah aku dengan bidadari di surga-Mu. Ya Allah dia telah membeli kesenangan-kesenangan dengan uang 1000 dinar, aku juga hendak meminta kesenangan di surga-Mu.” 


Pada suatu ketika Yahudza membutuhkan uang, ia pun mengunjungi Qurthuz untuk meminjam uang kepadanya. Awalnya Qurthuz tidak mengenali saudaranya tersebut sehingga Yahudza harus memperkenalkan dirinya. Setelah mengetahui bahwa Yahudza yang beriman telah kehabisan hartanya karena memeblanjakan di jalan Allah dan hendak meminta bantuan kepadanya, Qurthuz pun menjadi sombong dan mengatakan kalimat angkuhnya yang diabadikan Al-Qur’an ; “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.”  Ketika masih dikuasai oleh perasaan sombong, bangga, dan jumawa dia memasuki kebun-kebunnya yang subur dan merasa takjub terhadapa kekayaannya sendiri.  Qurthuz menjadi semakin sombong karena hartanya. ia pun mulai ingkar terhadap kebaradaan hari kiamat dan bahkan Allah swt, serta membuat olok-olok terhadap akhirat bahwa jika ada akhirat, Allah akan tetap memberikannya kebun dan taman yang lebih banyak ;

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا [١٨:٣٥]وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا [١٨:٣٦]

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (35) dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”.(36) (QS. al-Kahfi : 35-38). 


Yahudza yang mendengarkan ucapan-ucapan buruk saudaranyua kemudian menasehatinya, seperti tercantum di dalam ayat-ayat berikutnya ;

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا [١٨:٣٧]لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا [١٨:٣٨]

Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya — sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (37). Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.(38). (QS. al-Kahfi : 38).


Selain menasehati Qurthuz, Yahudza juga mengajarkan kepadanya saudaranya untuk berdoa dan bersyukur kepada Allah swt ketika melihat kebun dan kekayannya yang melimpah setiap kali ia memasuki kedua kebunnya yang subur ;

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, (QS. al-Kahfi : 39).


Akan tetapi Qurthuz tidak mau mendengarkan perkataan saudaranya, dia tetap kafir, ingkar nikmat, dan bersikap sombong. Akhirnya Yahudza memberinya peringatan yang cukup keras kepadanya bahwa Allah akan memberinya kebun yang lebih baik di akhirat  dan membinasakan kebun milik Qurthuz ;

فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا]٤٠] أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا [٤١]

Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin (40). atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi” (41). (QS. al-Kahfi : 40-41).


Di dalam ucapan Yahudza tersebut terdapat doa agar Allah membinasakan saja kebun saudaranya yang telah membuatnya menjadi kufur. Yahudza berharap jika kebunnya hancur dan tidak bisa diselamatkan lagi, Qurthuz akan menjadi beriman kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.  Allah swt lalu mengabulkan doa Yahudza dan membinasakan kebun saudaranya yang kufur nikmat. Qurthuz dan para pengawalnya tidak bisa berbut apa-apa untuk menyelamatkan harta serta kebunnya dia hanya bisa menyesali kekufuran yang telah ia lakukan;

وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا ]٤٢] وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ]٤٣]

Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”(42). Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.(43). (QS. al-Kahfi : 42-43).


Sumber Cerita : http://ayubmenulis.blogspot.co.id/


Demikianlah mengenai kisah Yahudza dan Qurthuz kita dapat mengambil hikmahnya yaitu Kita harus berhati-hati terhadap sifat sombong dan arogansi karena kekayaan. Kedua sifat tersebut dapat menjerumuskan kedalam kemusyrikan dan kekafiran. Dan Jika kita mendapatkan nikmat dari Allah swt berupa harta yang melimpah, keluarga yang bahagia dan lainnya, maka yang harus dilakukan adalah senantiasa bersyukur dan mengingat bahwa Dia lah yang telah memberikan semua nikmat itu.


Leave a Reply