OKI Mendeklarasikan Yarusalem Timur Sebagai Ibu Kota Palestina

  • 0

OKI Mendeklarasikan Yarusalem Timur Sebagai Ibu Kota Palestina

Bekasi, MA ( Mandiri Amanah )-News Regional Terkini. Sebelumnya OKI adalah sebuah organisasi internasional dengan 57 negara anggota yang memiliki seorang perwakilan tetap di Perserikatan Bangsa-Bangsaadalah sebuah organisasi internasional dengan 57 negara anggota yang memiliki seorang perwakilan tetap di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

OKI didirikan di RabatMaroko pada 12 Rajab 1389 H (25 September 1969) dalam Pertemuan Pertama para Pemimpin Dunia Islam yang diselenggarakan sebagai reaksi terhadap terjadinya peristiwa pembakaran Masjid Al Aqsapada 21 Agustus 1969 oleh pengikut fanatik Kristen dan Yahudi di Yerusalem. 
Dan kali ini Para pemimpin negara-negara muslim yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Berkumpul kembali di Istanbul Turki untuk mendeklarasikan pengakuan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina. Yang menjadi luar biasa lagi adalah Negara Turki menjadi Tuan Rumah Utama dalam Deklarasi Yarusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina, seperti yang kita tau dalam Organisasi Besar OKI sebagaimana di hadiri lebih dari 20 kepala negara serta para Petinggi Negara Kementrian Luar Negri yang tergabung dalam Organisasi OKI tsb, termasuk Presiden RI Joko Widodo di Istanbul, Turki.

Presiden Turki Tayyip Erdogan menyatakan dalam pidato sambutannya, status Yerusalem adalah “garis merah” bagi kaum Muslim dalam konflik Israel-Palestina. Dia menegaskan, Yerusalem timur adalah ibukota Negara Palestina Merdeka yang akan dibentuk. Dia sekaligus menyerukan kepada 57 anggota OKI agar mengakui Negara Palestina dan Yerusalem timur sebagai ibukotanya.


Deklarasi itu juga menolak dan mengecam keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump “yang tidak sesuai hukum. “(Keputusan Trump soal Yerusalem) tidak berlaku dan batal berdasarkan sejarah, hukum dan hati nurani,” demikian Deklarasi Istanbul.

“Kami meminta PBB, Uni Eropa dan masyarakat internasional untuk menjaga Resolusi PBB soal status Yerusalem.”